Minggu, 2009 April 19
berita dari tepi jalan
mimpi yang selalu hadir dalam tivitivi. kami tak lagi bisa tertidur, dan
tak boleh tertidur. sebab tertidur berarti memberi kemenangan
bagi kematian. sementara kami harus tetap hidup. meski marabahaya
seperti dua mata monster atau serupa kamera pengintai di mallmall
yang selalu menaruh curiga pada kami," ucap seorang ibu pada seorang
wartawan di tepi jalan itu.
"kami hanya ingin menyiasati hidup. meski terkadang cara kami sering
dianggap salah. tapi, sekali lagi, semua kami lakukan karena hanya ingin
menyiasati hidup. siasati hidup. itu saja. salah dan benar tak pernah sempat kami
perdebatkan. kami bahkan selalu berteriak di jalanjalan, bahwa kami hanya
ingin makan, ingin minum, ingin menjalani hari dengan sekedar bernyanyi
di tepi jalan beraspal panas," ucapnya lagi penuh hidmat. wartawan itu serius mendengar.
"tolong sampaikan pertanyaan kami pada orangorang di atas sana,
apa benar kami--jika masih dianggap rakyat--akan dimakmurkan
dan disejahterakan seperti dalam undangundangdasar dan pancasila
yang selalu kami pajang dalam bilik gubuk kami. atau undangundangdasar
dan pancasila itu sudah dihapuskan, dan diganti undangundang baru, yang bunyinya
mungkin begini: kemakmuran dan kesejahteraan hanya untuk orangorang berduit?
jika begitu, sampaikan juga permohonan kami, jangan lagi gusur kami. agar kami
leluasa mencari uang hingga cukup untuk membeli kemakmuran dan kesejahteraan
yang dijanjikan," pinta sang ibu dengan wajah memelas. wartawan itu cuma manggutmanggut.
"saya akan menuliskan ini dan menyampaikannya pada orangorang di atas
sana," janji sang wartawan sebelum benarbenar pergi meninggalkan tempat itu.
pun keesokan hari, orangorang membaca itu sembari minum kopi,
atau menikmati matahari pagi yang indah. dan setelah itu,
menjadi pembungkus kacang atau pengalas duduk. juga pemerkaya
pajangan ruang tunggu dan tambahan referensi serta data statistik
kemiskinan bagi para peneliti.
makassar
Perayaan Insomnia
Siklus tidur saya semakin parah saja. Dari hari ke hari makin tak tentu. Pertama-tama tidur jam tujuh pagi, lalu jam delapan, keesokan harinya jam sembilan. Dan tadi pagi saya baru bisa tertidur pada jam sepuluh lewat sekian. Saya tak bisa pahami mengapa bisa demikian.
Ini semakin diperparah oleh aktifitasku dua malam sebelumnya dengan ber-facebook ria di ruang Unit Kegiatan Liga Film, yang memiliki fasilitas hotspot. Pembuatan facebook awalnya hanya iseng belaka. Kemudahan mendaftar membuat saya pelan-pelan mulai masuk lebih jauh, membuka profil-profil orang-orang, membaca hal apa saja yang mereka perbincangkan, dan saya pun me-link mereka menjadi ‘teman’—istilah yang sangat bersahabat namun ilutif. Itu berlanjut malam berikutnya hingga pagi hari. Hingga semakin menambah perubahan yang cepat terhadap diri saya.
Dari perubahan itu, saya mempelajari apa-apa yang berubah pada tubuh dan psikologi saya. Tubuh saya perlahan mulai sedikit mengurus. Rahang di kedua pipi saya mulai nampak. Tak seperti satu bulan lalu, rahang saya masih aman bersembunyi di balik daging pipi yang montok. Selain itu, di sekeliling mata juga mulai terlihat kehitam-hitaman seperti mata pocong. Kepala sedikit berat jika hendak bangun. Dan sepertinya ada meriang abadi yang menempel di punggung saya. Pori-pori punggung saya mulai sensitif dengan hembusan angin, sepelan apapun ia menghampiri.
Saya mulai meminta saran kepada orang-orang di sekeliling saya agar bagaimana siklus tidur saya kembali normal: tidur malam beraktifitas pagi. Tapi, tak ada satu pun solusi cerdas dan memungkinkan yang bisa saya lakukan. Ada memang solusi-solusi yang terpatahkan bagi saya untuk saya lakukan. Di antara solusi itu: cobalah membaca bacaan yang berat yang bisa membuat bosan agar mata memberat, mengantuk dan tertidur. Mana mungkin! Justru bacaanlah yang membuat saya semakin melek. Karena dasarnya saya, jika membaca selalu mencari hal-hal menarik dari bacaan tersebut. Kalau pun bacaan itu tidak menarik, saya selalu mencoba untuk mencari letak ketidak-menarikannya, menguraikan peta-peta kesalahan, lalu mencoba untuk memperbaikinya. Nah, karena solusi itu—membaca bacaan berat itu—tidak akan berhasil bagi saya, saya abaikan saja.
Solusi yang lain adalah: cobalah untuk tidur siang atau sore. Lah, ini omong-kosong apa lagi? Waktu siang memang adalah waktu di mana saya baru beberapa jam tertidur. Sore hari? Itu juga tidak mungkin. Wong jam bangun saya saja menjelang sore. kok. Tak mungkinlah saya harus tidur lagi. Solusi yang paling gila adalah: cobalah menenggak alcohol menjelang tengah malam agar terjatuh di kasur. Tak, tak akan. Aku tak akan melakukan sesuatu yang membuat aku tergantung selanjutnya. Sekali-kali mungkin boleh. Karena memang aku memiliki prinsip: jauhi alkohol. Tapi, jangan jauh-jauh.
Apa saya harus mengonsumsi obat tidur saja, ya? Ah, saya masih terlampau khawatir menenggak obat yang satu ini. takut nantinya tak bangun-bangun. Dan tentu saja aku belum mau membuat orang-orang sedih karena kehilangan aku. Aku kan orangnya…Alah, semakin kacau saja.
Saya sering katakan kepada orang-orang bahwa saya telah merubah siklus tidur saya. Seolah-olah itu adalah ikrar, seolah-olah untuk selanjutnya saya akan mempertahankan gaya hidup seperti ini. Padahal, saya sering khawatir. Jika saya benar-benar merubah siklus tidur saya, maka sedikit hal yang bisa saya kerjakan bersama banyak orang. Orang-orang rata-rata beraktifitas di pagi hari, sementara itu saya sedang tertidur. Orang-orang bercengkerama dan mencari kenalan di pagi hari, sementara itu aku sedang bermain di taman mimpiku yang asing. Untuk mengajak orang-orang begadang itu tak mungkin. Mereka pasti rata-rata telah punya rencana untuk berangkat menunaikan dan menuntaskan kerja bersama teman sejawat. Mereka senang bekerja di bawah matahari, aku suka bermain dalam hitam malam. Mereka seperti penjaga surya, aku seperti mata-mata malam bagi pencuri. Jika sudah berpikiran begitu, kesunyian dan keterasingan semakin melandaku. Aih, diri ini!
****
Senin, dini hari. Motor kopling hitam menyorotkan cahaya silau ke arah kami, membuyarkan perbincangan tentang banci dan kaum waria yang sedang alot-alot berlangsung di antara kami. Saat mendekati undakan menuju lantai atas, kami langsung bisa menerka siapa gerangan: Anto dan Safar. Safar, dengan punggung telanjang, turun dari kemudi belakang motor. Ia terhuyung-huyung diikuti tawanya yang tersendat-sendat, melewati kami menuju ruangan UKPM, dengan menyebarkan aroma alkohol yang kental.
“Mana istriku. We, mana istriku. Ada ko lihat?”
Ia mengulang-ulang kalimat itu tanpa orang yang jelas ia tuju. Kami tertawa-tawa menyaksikan tingkah dan kalimatnya yang tak karuan. Anto, setelah memarkirkan motor langsung mendekati bangku kayu yang menampung setengah pantat orang dewasa, kemudian duduk tenang. Aroma alcohol juga menguar dari mulutnya, meski ia tak juga mengeluarkan ucapan.
“Bagaimana penampilan band-mu. Asyik ji?” tanyaku.
“Juara lima ka’ kakak!”
“Iya, tawwa. Selamat. Ramai pasti orang di Akkarena.”
“Bukan di Akkarena kakak. Tapi, di Ramayana.”
“Oo. Saya kira di Akkarena. Padahal hampir ma kesana. Tapi tak ada teman.”
Ia kemudian berkata bahwa selain Efek Rumah Kaca, Festival Band Indie Makassar yang baru saja ia ikuti juga dimeriahkan oleh band GIGI dan The Brandals. Sehabis itu? Yah, minum-minum bersama enam orang. Saya lupa tanya, siapa mereka. Mungkin teman-teman band-nya Anto.
“Berapa botol?”
“Dua belas botol.”
Artinya, ada dua botol jatah untuk satu orang. Hmmm, lumayan…
Safar keluar dari ruangan mendekat ke arah kami. Lalu duduk di samping Kurni, atas kursi panjang keseluruhan berbahan besi, sehingga selalu berderak jika bersandar di atasnya. Ia memandang Kurni. Tak berapa lama, ia spontan melayangkan telapak tangannya ke jidat Kurni, mendorong kepala bagian belakang Kurni terbentur ke tembok. Teman-teman di Unit Kegiatan Karate Do pasti bertanya suara apa di balik tembok mereka.
Dengan terus tertawa dan bangkit dari kursi, ia mengoceh:
“Ih, adikku. Lompo mi. Dulu masih kecil, masih bisa ditendang-tendang.”
Kami spontan juga ikut tertawa. Kurni hanya mampu tertawa kecil, mungkin menyembunyikan rasa sakit. Kurni adalah sepupu Safar. Dan alkohol itu telah membangkitkan kepekaan Safar dalam melihat perubahan di diri salah satu keluarga terdekatnya, yaitu sepupunya sendiri: Kurnia.
Lalu saling sahut antara Ia dan Kurni berlanjut dalam bahasa Jeneponto. Saya tak paham dengan apa yang mereka perbincangkan. Tapi, karena bahasa tak selalu berbentuk ucapan, saya membaca melalui alotnya mereka saling melempar ucapan dalam tawa, melalui bagaimana Safar berusaha untuk “mengelus” bagian tubuh Kurnia dalam bentuk pukulan, tendangan kecil dan ragu-ragu, saya merasa komunikasi yang romantic dan sedikit kacau tengah terjalin pada sepasang keluarga itu. Sungguh harmonis. Biar pun ia terjalin dalam aroma alcohol yang sedikit amis.
Safar kemudian beralih atas sadel sepeda motor, tempat Tomas duduk. Kemudian ia memijit-mijit pundak Thomas sambil terus tertawa tak karuan. Sambil matanya jatuh ke banyak benda di sekeliling kami, ia berkata kepada Thomas:
“Ini temanku pergi ke Rumbia, kodong. Sama-sama mau rusuh tapi tidak jadi.”
Thomas menyambut kalimat itu dengan sumringah kecil di sudut bibirnya. Rumbia adalah wilayah sedikit menuju pedalaman Jeneponto, tempat kasus penembakan polisi kepada masyarakat yang berkonflik gara-gara perebutan lahan. Dulu kami menjadi tim advokasi sekaligus penyebar propaganda untuk menarik simpati masyarakat Sul-sel melalui usaha kampanye media.
Kami tak bisa berhenti tertawa dan sedikit geleng kepala. Bagaimana tidak? Safar selama ini tak selepas dan sebebas ini. bicaranya tak terkontrol, bebas terkendali, namun tetap santun dalam batas-batas yang tidak melanggar etika pertemanan. Saya sendiri justru lebih nyaman dengan kejujuran yang spontan seperti itu. Sisi kemunafikan yang lahir dengan menekan sedalam-dalamnya kita punya keliaran dengan pura-pura mematuhi seperangkat peraturan dunia nyata kadang membuat kita kehilangan kejujuran sejati. Saya tidak membenci aturan, sebagaimana saya juga tidak menyenangi keliaran tak perlu. Tapi, Safar malam itu lebih banyak menjadi mesin pengingat tentang apa-apa yang pernah dijalani bersama-sama. Ketika ia membuka laci ingatannya membangkitkan kembali segenap peristiwa yang telah lewat, saya tersentak: ada begitu banyak hal yang terlupakan seiring hantaman aktifitas yang membuat memori kami babak belur.
Bagi Safar, meski tak secara harfiah ia sebutkan, kebersamaan itu begitu bermakna. Ia ingin kami melestarikan kebersamaan itu dalam bentuk yang berbeda. Ia ingin ada banyak kerja yang dilakukan bersama-sama tanpa ada keterpaksaan, semua penuh ketulusan. Tapi, apa lacur, kami, di antara mimpi membuat dunia tempat banyak orang saling berbagi tanpa pamrih, terus terancam tergusur oleh banyaknya paksaan untuk kerja secara individu, bekerja untuk menyenangkan segelintir orang, lalu kebersamaan hanya sebatas impian dan aktifitas untuk mengusir kebosanan, mengalienasi diri kemudian ke dalam kerja yang membosankan. saya, di ruangan ini, kembali harus berani menyerukan cita-cita yang mungkin bagi banyak orang hanya eutopia: dunia yang lain itu mungkin.
Tak lama, Safar berangsur menuju ruangan UKPM. Ia hempaskan segera tubuhnya atas karpet merah, yang lekukan-lekukan dan tonjolan-tonjolan kecilnya kadang membuat pola yang sama pada anggota tubuh yang bersentuhan dengannya, khususnya bagian pipi. Dengan tetap tak berbaju, ia pun tertidur, setelah sebentar tatapannya khusyuk menekuni langit-langit ruangan.
Saya bersama Kurni, Himas, Thomas dan Welem kemudian menuju PKM I, lantai 2. Kami meninggalkan sebotol coca-cola terbungkus plastic hitam yang telah tandas. Juga bungkusan roti yang telah habis. Sajian kami malam itu—sebotol coca-cola dan sebungkus roti tawar segi empat itu—sempat menjadi bahan tertawaan Safar. Katanya, menyindir kami:
“Aih, mengaku anti-kapitalis, tapi minum coca-cola.”
Saya tahu itu pemahaman keliru. Dan saya tahu pula, bukan tempatnya dan tidak bijak menanggapinya. Lebih bijak jika mendengar seluruh isi kepalanya yang spontan itu. Terima kasih, alcohol. Terima-kasih…
Kemudian kami yang menuju PKM I berpencar di lantai atas. Saya sendiri menuju ruang Liga Film, melanjutkan menekuni halaman facebook saya. Lama saya mengutak-atik profil banyak orang, kemudian saya pun mengedit dan menambahkan info tentang diri saya sendiri. Dalam poin Tentang Saya yang saat itu masih berbahasa Inggris About Me, saya tuliskan beberapa kalimat yang kurang lebih seperti ini:
Saya sebetulnya adalah pembenci dunia maya. Saya merasa tak nyaman dan teralienasi dengan komunikasi seperti ini. Saya ingin dunia memperlambat kembali akses manusia terhadap banyak hal, agar ruang untuk mengingat semakin jembar dan dalam. Saya senang berjudi dan berada dalam ketidakpastian. Saya senang berada dalam debaran ketika mengunjungi rumah seseorang, menerka-nerka apakah mereka akan ada di rumah atau sedang tidak ada. Jika ada, maka saya beruntung. Saya akan berbincang-bincang tentang banyak hal yang bermanfaat tentang diri saya dan diri mereka. Tapi jika mereka sedang tak ada di rumah, saya tak perlu kecewa dan mengumpat, sebab begitu banyak perjalanan dan tujuan yang harus segera disusun.
Tapi saya juga tahu, teknologi adalah bukti keberadaan akal dan kreasi pada diri manusia. Hanya saja aku tak suka pada teknologi yang membuat dan memaksa orang seragam dan sama…
Tertulis masih dalam rangka merayakan atau mengisi kekalahan saya sendiri terhadap insomnia
Radiohead dan Ingatan-ingatan Kecil
Saya mau menuliskan apa sekarang? Sepertinya tak ada yang berarti untuk ditulis. Seharian ini saya tak ke mana-mana. Ke kampus pun tidak (memang untuk apa ke kampus? Toh, saya bukan mahasiswa lagi). Di PKM saja. Mengulang pembicaraan yang sama dengan teman-teman baru, menertawai cerita humor yang berulang, pokoknya banyak hal yang berulang yang terus terjadi. Dan sialnya hal yang berulang itu terjadi pada saat sang waktu terus berlalu, dan tak akan terulang. Bukankah waktu setiap orang ada ujungnya?
Meski begitu, sesuai perjanjian, saya akan terus menulis. Mencari hal yang berarti dalam hal yang berulang itu. Berusaha untuk mencari makna baru, bukan makna yang juga berulang. Untuk itulah, seberat apapun saya menulis sesuatu yang berulang itu, saya harus terus menulis. Terus menulis…
Pause:
Rabu, 11 Maret 2009. Catatan di atas saya tulis kemaren subuh. Namun tertunda karena Ilda harus memakai computer untuk mengetik tugas mata kuliahnya. Tugas itu pun tak dikerjakannya. Ia tertidur di atas tiga jejer kursi merah di depan dua meja tempat computer dan mixer radio tergeletak. Aku tak enak untuk membangunkannya. Ia sepertinya begitu nyenyak. Sehingga aku habiskan subuh hari dengan mendengar lagu radiohead yang sengaja aku susun untuk diriku sendiri. Jika semua lagu radiohead telah terputar, aku tinggalkan radio polytron yang kuhadapkan ke wajahku di samping kasur dan kususun kembali radiohead, kudengar kembali. Sampai bosan, sampai aku tertidur.
Entah mengapa, sejak malam kemaren—tepatnya subuh kemaren—aku terbius dan kecanduan dengan radiohead. Tak pernah aku kecanduan seperti ini kepada radiohead. Selama ini aku hanya menyukai beberapa lagu, dan itu aku dapatkan dari teman-teman, khususnya Wawan dan Kurnia. Lagu pertama radiohead yang kukenal dan lagsung kusuka adalah No Alarm No Surprises, yang beberapa lirik lagunya pernah dikutip untuk baju sablon hasil buatan teman-teman idefix. Lirik itu berbunyi: …bring down the government/they don’t, they don’t speak for us. Lirik yang sangat anarkis. Lagu lain yang kusuka dari radiohead adalah Creep. Lagu ini penuh tenaga, selain liriknya yang keren. Dua lagu itulah (No Alarm No Surprises dan Creep) yang sangat kusuka.
Mengapa bisa aku kecanduan seperti ini? baik, akan aku coba urai-urai sambil mencoba mencari tahu dari mana rasa suka yang berlebihan ini. Pertama, aku mulai mengenal radiohead dari Wawan dan teman-teman yang lain di idefix. Sebetulnya, bukan hanya radiohead yang mulai aku kenal ketika berteman dengan mereka—di idefix. Banyak band-band dan lagu-lagu aneh yang tidak memenuhi selera pasar(an), aku mulai kenal dari mereka. Khusus radiohead, ia bisa disebut menjadi pintu pertama bagiku yang mengiringi perkenalanku dengan mereka. No Alarm No Surprises adalah lagu yang paling sering kami nyanyikan di tempat-tempat pentas ketika diundang pada acara-acara kecil—seperti bazaar buku, diskusi kecil, dan lain-lain—oleh teman-teman yang mengetahui bahwa kami memiliki kelompok akustik kecil dan bersahaja yang kami beri nama: Dendang Rakyat Semesta. Dendang Rakyat Semesta sebetulnya reinkarnasi atau bentuk baru dari Pijar Imaji, komunitas yang didirikan oleh Ippang, salah satu teman di idefix, dengan teman-temannya. Pijar Imaji ini telah membuat berbagai macam acara, khususnya menyangkut gerakan anti-globalisasi. Lalu dari mana Dendang Rakyat Semesta itu berasal? Setahu saya, Dendang Rakyat Semesta itu cikal bakal nama yang diberikan secara spontan oleh Bobhy, salah satu teman yang pernah menjadi ketua umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), pada saat peluncuran atau peresmian partai Papernas, yang merupakan gabungan kekuatan-kekuatan kiri, khususnya PRD dan underbouwnya. Kalau tidak salah itu masa tahun 2006. Nah, karena kami cukup dekat dengan mereka, kami pun diundang untuk mengisi salah satu babak acara yaitu musikalisasi atau akustik. Kami pun memenuhi undangan mereka, dan berangkatlah kami di gedung Hamrawati, dekat jalan tol Reformasi, Makassar.
Saya tak tahu persis berapa orang dari personel Dendang Rakyat Semesta yang berangkat ke sana. Yang saya ingat: saya sendiri, Nita dan Bobhy (dua orang ini kini menjadi suami istri dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang dipanggil Maha), Achieve (kini menjadi lay-outer di salah satu media local Lombok, NTB), Ladung (kini telah pulang ke Kalimantan), dan beberapa orang lagi yang kulupa siapa.
Setelah disambut oleh salah satu panitia, kami ditawarkan untuk duduk di kursi yang kosong di bagian belakang. Tetapi kami memilih untuk duduk di emperan belakang di bagian luar gedung, di lantai dua. Aula tempat acaranya memang di lantai dua, karena lantai satu adalah gedung administrasi. Kami duduk di emperan maksudnya untuk latihan sekali lagi, mempermatang diri agar tak salah ketika mentas nantinya. Dalam latihan pemantapan itulah Bobhy menyarankan agar tak usah memakai nama Pijar Imaji, melainkan Dendang Rakyat—tanpa kata “Semesta”. Karena Pijar Imaji citranya lebih dekat dengan teman-teman di Unhas dan teman-teman di idefix. Kami, sebetulnya, tak ingin terekspos sebagai orang-orang Unhas atau anggota komunitas idefix. Apalagi untuk acara partai, wah bisa dituduh macam-macam nantinya. Kami hadir ke tempat itu, selain karena kebetulan organ-organ ini memiliki sedikit hubungan emosional dengan kami, juga karena beberapa programnya bagi kami lebih merakyat dari pada program-program partai yang ada. Yang paling saya ingat dari tiga program besar yang mereka kampanyekan adalah nasionalisasi pabrik pertambangan.
Ruangan atau aula tempat peluncuran partai Pelopor ini bising oleh suara-suara perempuan-perempuan yang rata-rata setengah baya, di bagian belakang. Ibu-ibu yang rata-rata memakai baju merah—bertuliskan nama partai—sibuk mengatur masalah konsumsi. Di samping kiri-kanan pintu masuk di dalam ruangan, beberapa kursi berjejer berhadap-hadapan. Di atas kursi-kursi tersebut duduk perempuan-perempuan beragam umur—dari umur belasan hingga dua-puluhan—berdandan minor, dengan baju bodo, baju adat Sulawesi Selatan, membungkus tubuh mereka. Mereka adalah penerima tamu. Bedak dan lipstick mulai terlihat lembab karena cuaca aula yang gerah oleh udara siang, karena ruangan tak ber-AC. Beberapa sibuk mengipas-ngipas wajah dan dada karena kepanasan.
Saya tak lagi ingat siapa dari kalangan pembesar partai atau tamu kehormatan yang memberi pidato atau orasi pada peluncuran partai itu. Yang saya ingat adalah orasi-orasi yang berturut-turut dari kalangan buruh atau rakyat miskin kota yang sungguh jauh dari bahasa ilmiah. Sehingga acara itu terkesan acara kumpul orang-orang kecil yang tak mengerti bahasa politik dan pidato ilmiah. Bahasa mereka adalah bahasa sehari-hari yang belum tercemar oleh polesan-polesan diplomasi palsu. Semua terlihat spontan, semua terkesan jujur.
Seusai semua acara resmi, tibalah pada acara hiburan. Bobhy kembali mengingatkan untuk memberi tahu panitia agar di sesi pementasan kami, kami diperkenalkan dengan nama Dendang Rakyat. Panitia dipanggil dan diberi tahu. Kami pun menunggu nama itu disebut, dan kami akan tampil.
Beberapa persembahan telah ditampilkan. Rata-rata pengisi acara hiburan menyanyikan “lagu-lagu perjuangan”—istilah bagi orang-orang gerakan dalam menyebut lagu-lagu yang bercerita tentang kerakyatan—yang beredar di kalangan tertentu saja. Seperti Darah Juang yng terkenal itu, juga puisi-puisi Wiji Thukul dan semacamnya.
Dan tibalah saatnya: nama Dendang Rakyat pertama kali disebut di sebuah acara peluncuran partai. Meski tetap saja kami sedikit kecewa, karena di belakang nama Dendang Rakyat tersebut kata Unhas. Tapi, tak apa. Tugas kami sekarang adalah tampil yang sebaik-baiknya.
Kami tampil dengan menghadirkan (kalau tidak salah) dua macam persembahan. Satu lagu dan musikalisasi puisi. Seusai persembahan itu, setelah duduk sebentar dengan teman-teman LMND, kami pun pulang. Dan para anggota partai setelah peluncuran itu kemudian longmarch mengendarai truk dan sepeda motor, keliling kota.
Sejak pementasan di acara tersebut, mulailah nama Dendang Rakyat disebut-sebut. Dan kata “Semesta” itu juga kadang bertukar dengan kata “Sejahtera”. Dan sampai sekarang pun seperti itu, meski mayoritas teman-teman mulai nyaman dengan kata “Semesta”. Teman-teman pun mulai senang menyingkatnya dengan DRS (Dendang Rakyat Semesta).
Dan lengkaplah sudah sejarah nama Dendang Rakyat Semesta di bumi Makassar. Anda bisa melihatnya tampil di acara apa saja, terlebih acara ala mahasiswa. Juga aksi jalanan. Jika anda ingin mengundang, carilah beberapa personelnya, lalu bawa mereka ke tempat acara anda itu. Dijamin, dengan senang hati mereka akan tampil meski tanpa persiapan sedikitpun. Karena toh para personelnya tak ada yang jelas. Tapi mereka sungguh penuh semangat. Penuh semangat bernyanyi, penuh semangat memainkan gitar, penuh semangat memukul jimbe, dan yang paling utama adalah penuh semangat mengulur-ulur waktu pementasan mereka. Maka itu, janganlah segan-segan menginterupsi mereka jika ada gelagat menuju arah itu. Jangan takut, mereka tidak akan marah atau kecewa. Karena mereka adalah orang-orang telah putus urat malu, bukan urat kemaluan.
Seringnya saya bersama teman-teman tampil menggunakan DRS, perlahan-lahan membentuk kessenanganku terhadap lagu-lagu yang memiliki dan membawa pesan “dalam” dan tak dangkal. Lamat-lamat saya mulai emoh dan meninggalkan lagu-lagu cinta, meminjam Efek Rumah Kaca dalam Cinta Melulu, yang mengatasnamakan pasar semata. Bersama-sama teman-teman di DRS pula saya mulai memburu lagu-lagu indie, lagu-lagu yang mengeksplorasi banyak hal tentang hidup, dan tidak terjebak pada lagu yang hanya mengumbar cinta dalam makna yang sempit: sebatas hubungan dua individu, perselingkuhan dan sejenisnya. Lagu-lagu apa saja itu? Ada baaanyak sekali! Saya tak bisa menghitung begitu banyak band-band yang ada dalam folder music kami yang mungkin asing bagi telinga awam. Belum lagi kaset-kaset yang band-band dan label perusahaan rekamannya aneh didengar.
Virus-virus terhadap lagu-lagu indie turut pula menyebar ke UKPM. Ini tentu saja dibawa oleh teman-teman yang anggota UKPM juga sebagai pegiat idefix. Hal ini tentu menjadi bargaining point (kedengeran keren, kan?) bagi kami. Sebab, di setiap pementasan, kami bisa menyaksikan mulut penonton yang melongo sambil menyembunyikan kekaguman mereka terhadap DRS (ini salah satu sikap sok orang-orang DRS, hehehe..), karena nyanyian kami yang mungkin menurut mereka baru dan menggairahkan (ini juga salah satu sikap over-pede orang-orang DRS).
Nah, sejak saya kemudian tak lagi terlalu aktif dengan teman-teman idefix, karena persoalan akademik yang menuntut untuk dientaskan, saya juga sedikit menjauh dengan hingar-bingar lagu-lagu keren dan “dalam” tadi. Saya mulai mencari satu pengalaman di mana saya bisa belajar untuk mempraktekkan ilmu mengedit saya yang saya pelajari secara otodidak. Saya pun diminta untuk mengedit (redaksional) beberapa naskah yang akan diterbitkan oleh penerbit Ininnawa. Dan gaji-gaji dari pekerjaan itu kemudian menjelma buku-buku.
Di kantor ininnawa, saya bertemu kembali dengan Tom Yorke, vokalis radiohead. Kak Jimpe, direktur penerbitan, adalah orang yang “keranjingan” dengan suara-suara Yorke yang sekali-kali melengking, sekali-kali menggumam syahdu. Dari kak Jimpe pula saya mendapatkan terjemahan lagu-lagu radiohead dalam bahasa Indonesia dengan gaya yang puitis. Kebetulan kak Jimpe juga adalah penyair yang karya-karyanya pernah dimuat di Koran tempo dan media-media sastra lainnya. Ini tak banyak yang tahu. Aktifitas kepenyairannya mutlak tersita oleh pekerjaan memeriksa naskah karya yang masuk ke meja redaksi penerbitan.
Awalnya saya suka dengan beberapa lagunya radiohead, kemudian kagum dengan karisma serta hal-hal politis mereka dalam bermusik. Ini saya ketahui dengan bincang-bincang dengan beberapa orang yang mengetahui tentang band ini, juga majalah music Rolling Stones, dan juga browsing di dunia maya.
Kemudian pintu selanjutnya yang perlahan mulai membuat aku lebih dekat kepada radiohead adalah Efek Rumah Kaca. Band asal Jakarta ini digawangi tiga orang laki-laki. Album pertama mereka yang memakai nama sendiri sebagai nama album—atau selftittle—adalah album dengan eksplorasi-eksplorasi hal baru dalam lirik. Simak saja bagaimana lagu tentang Hujan Desember, Jatuh Cinta itu Biasa Saja, dan lain-lain. Bukan Cuma itu, kritik terhadap persoalan sehari-hari juga muncul dalam beberapa judul lagu. Dari prilaku konsumtivisme (istilah yang paling benar dari pemakaian kata konsumerisme) masyarakat kita (dengar saja lagu Belanja Terus Sampai Mati), hingga kecenderungan para pemusik yang latah, yang mencari keuntungan lewat music dengan mengabdi pada pasar (dengar saja Lagu Cinta Melulu).
Kesempatan besar saya untuk menyaksikan langsung band ini manggung hadir pada saat peluncuran atau peresmian sebuah distro yang menjual baju sederhana dengan harga hingga ratusan ribu rupiah, voolhouse (awalnya aku piker Fullhouse, yang juga merupakan band mellow yang pernah menjadi hit di kalangan anak-anak idefix dengan tembangnya: Breathing).
Kesempatan itu bertepatan dengan satu acara yang tak kalah penting: Pengukuhan Anggota Baru UKPM di Tanjung Bayam, yang telah lulus IHT (In House Training), sebuah prosesi sekitar satu bulan sebagai syarat menjadi anggota. Nah, awalnya aku sudah berniat “durhaka” terhadap UKPM: aku tak akan hadir hanya untuk menyaksikan band ini tampil. Alangkah sayangnya, Alan, salah satu anggota dewan pers kala itu yang kini menjadi kordinator dewan pers, dawtang menjemput. Gugur sudah harapan menonton Efek Rumah Kaca.
Akan tetapi, keinginan itu muncul kembali ketika Ahmad, salah satu anggota baru yang akan dikukuhkan, berniat pula untuk menonton. Tanpa berkomentar panjang tentang statusnya sebagai orang yang akan dikukuhkan, saya pun dengan sumringah yang paling lebar di kedua sudut bibir mengajaknya untuk menonton. Awalnya ia ragu dengan ajakan saya. Tapi ketika saya meyakinkan bahwa tak akan terjadi apa-apa terhadap status keanggotaanmu, ia pun mengangguk setuju.
Sekitar usai maghrib, kami berangkat. Hanya satu-dua orang yang tahu bahwa kami keluar untuk menonton Efek Rumah Kaca. Itu pun mungkin mereka masih sangsi.
Kami pun berangkat dengan mengendarai motor miliknya. Di tengah perjalanan, serbuan SMS terus mengguyur handphonenya. Ada yang berkata agar jangan keluar jauh-jauh dan jangan lama-lama. Ada pula yng memesan sesuatu. Panji, sang ketua UKPM waktu itu, meminta untuk membelikan beberapa tali gitar. Kami berhenti, lalu membelikan tali gitar.
Sesampai di tempat acara peluncuran di jalan pengayoman, dekat Mall Panakukang, kami segera memarikir motor, dan perlahan mendekat ke arah panggung yang menutupi satu jalur jalan raya, yang berseberangan dengan kios distro Voolhouse berdiri. Saat itu hingar-bising dengan lagu-lagu yang dilantunkan oleh band-band indie local yang mengisi acara sebelum aksi panggung dari Efek Rumah Kaca.
SMS kembali menyerbu Ahmad dengan pertanyaan tentang kejelasan keberadaannya. Ahmad dengan wajah panik meminta tanggapanku. Aku memandang matanya dan berkata,”ah, biar saya yang tanggung-jawab.” Nah, ini jawaban yang sangat feodal. Bagaimana mungkin jawaban yang sangat arogan ini bisa keluar dari anak UKPM? Tapi, sungguh, ini bukan niat. Ini hanya reaksi spontan karena dituntut oleh hal yang susah dijelaskan. Ini tentang pilihan. Ini tentang rekreasi. Ini tentang memilih hiburan.
Tapi aku bisa membela diri: alasan kami lebih keren dari alasan Wawan ketika ia tak mengikuti acara pengukuhan saat ia seharusnya dikukuhkan. Ia beralasan mengikuti sebuah acara lembaga. Namun, sungguh memalukan dan memilukan, seseorang mendapatinya tengah berada di kerumunan orang-orang yang asyik menonton konser music Sheila on Seven. Mana yang lebih keren alasannya? Dan…mana yang lebih asyik bandnya? Ya, alasan kami dan band yang kami tonton dong yang lebih keren.
Setelah semua band pembuka tampil, Cholil, sang vokalis sekaligus gitaris yang juga kakak kandungnya presenter Indra Bekti, memakai baju kaos belang vertical lengan panjang berleher hingga menutupi jakun leher, naik ke atas panggung bersama dua personel lainnya: basist dan drummer. Petikan gitar pada lagu pertama seperti sebuah magnet yang menarik banyak orang mendekati bibir panggung setinggi sedikit ke bawah dada orang dewasa. Tapi sayangnya, mik yang dipakai Cholil ngadat alias tak berfungsi. Untuk mengusir kekecewaan, bebrapa penonton seperti sepakat koor bersama-sama mengganti suara Cholil: demi masa/ sungguh kita tersesat/membiaskan yang ada/karena kita manusia…
Cholil terus bernyanyi, meski mik di hadapannya belum pula berfungsi. Seseorang yang mungkin penanggung-jawab teknis sibuk memeriksa dengan menggoyangkan kabel mik, berharap segera menemukan kerusakan di sana. Mik berfungsi menjelang akhir lagu. Setelah lagu usai, Cholil meminta maaf—seharusnya panitia yang meminta maaf—atas kesalahan teknis tadi.
Saat lagu pertama itu, saya tak mendekat ke arah panggung. Saya masih sekitar sepuluh meter dari arah depan panggung. Cholil kemudian menyapa penonton sekaligus mengumumkan bahwa penampilan mereka malam itu sekaligus launching album kedua mereka: Kamar Gelap. Kamar Gelap bersampul sebuah gambar latar hitam dengan foto samping seekor kambing berjenggot sedang—tak terlalu lebat—yang dijepit mulutnya dengan sebuah jepitan yang sering dipakai untuk menjepit jemuran pakaian.
Di lagu kedua, saya mulai benar-benar mendekat ke bibir panggung (dalam artian harfiah, sampai menyentuh papan panggung hingga bisa membaca sehelai kertas A3 yang menyenarai lagu-lagu yang akan dibawakan malam itu). Dari catatan di kertas itu, saya jadi tahu ada 14 lagu yang akan mereka bawakan, serta lagu yang apa saja yang saya hafal lirik dan tekanan nadanya. Sehingga saya bisa berencana di lagu mana saja saya akan melompat-lompat. Ada tiga lagu yang membuat saya, juga orang-orang di sekitar saya, lompat-lompat mengikuti ritme lagu: Di Udara, Lagu Cinta Melulu, dan satu lagu dari Album baru. Di dua lagu pertama saya bisa melompat sambil bernyanyi, tapi, di lagu ketiga, saya hanya melompat tanpa bernyanyi. Karena terus terang saya belum mendengar lagu-lagunya, kecuali Kenakalan Remaja di Era Informatika, yang bercerita tentang kegemaran anak-anak remaja Indonesia memamerkan tubuh hingga mengabadikan perzinahan mereka lewat video dan tersebar di dunia maya. Padahal, saya berharap salah satu lagu andalan saya yaitu Belanja Terus Sampai Mati dinyanyikan. Namun tidak dinyayikan. Tapi, Cholil sempat mengucapkan kata itu ketika ia mengumumkan orang-orang di tempat itu, yang rata-rata anak-anak muda dengan dandanan ala distro (yang seperti apa itu?), untuk membeli album mereka dengan hasrat memiliki satu saja. Jangan beli banyak-banyak. “Jangan Belanja Terus Sampai Mati,” kata Cholil.
Kalimat ini mungkin juga untuk menyindir salah satu band pembuka, ketika tampil menyerukan kepada orang-orang, setelah sebelumnya mengucapkan selamat Voolhouse atas launchingnya, untuk membeli barang-barangnya Voolhouse dengan berlipat-ganda. “Ayo, belanja terus sampai mati,” seru sang vokalis band itu.
Setelah lagu pamungkas usai, kami kembali ke Tanjung Bayam. Sesampai di sana, pengukuhan belum dilaksanakan. Seperti perkiraanku. Hanya presentasi media kelompok tengah berlangsung. Awhmad pun disuruh panitia untuk bergabung dengan kelompoknya, namun melalui pintu belakang, dekat kamar mandi dan dapur—dua benda yang serasi, seperti serasinya antara aktifitas makan dan berak, masuk ke perut keluar lewat ******.
Sejak sat itu, saya mulai memutar lagu Efek Rumah Kaca di setiap ada kesempatan bercengkerama dengan monitor computer. Beberapa lagu mulai terdengar seperti candu, mengusap lembut telinga saya. Saya kemudian merasa de ja vu dengan nada-nada gitar dan vocal si Cholil. Tak salah lagi, music Efek Rumah Kaca memang terinspirasi dari music Radiohead.
Dan subuh kemaren hingga saat ini, saya selalu seperti tak bosan-bosan mendengar Radiohead. Awalnya memang terdengar rumit, perlahan-perlahan seperti mantra, ia terus memaksa telinga kita untuk terus mendengarnya. Sialnya, saya mendengar Radiohead ketika beberapa teman angkatan saya mulai melirik dunia kerja industri untuk menghidupi diri. Sementara Radiohead terus-terusan memborbardir kepala saya dengan propaganda dalam lagunya No Alarm No Surprises.....a job that slowly kills you/bruises that won’t heal…
Numpang Makan Siang di Warung Makan Padang
Pukul 11.30 pagi ini saya bersama seorang teman berangkat menuju warung makan Padang, dalam rangka menghadiri undangan peresmian warung makan “Putri Minang”. Aih, saya berbohong: tujuan saya dan teman ke sana semata untuk numpang makan siang gratis. Kami hanya memanfaatkan undangan hijau mengkilap itu sebagai tiket, yang hanya berlaku untuk dua orang.
Letak warung makan itu rupanya satu tembok pembatas dengan warung kopi al-Dina, tempat beberapa minggu yang lalu panitia Mubes UKPM XIV mengadakan bazaar. Beberapa baris ke samping kanan berjejer rumah-rumah makan, bengkel dan kios. Di seberang jalan dari jejeran rumah makan Padang itu, Universitas Islam Makassar—sering ditulis UI Makassar—berdiri bersahaja.
Sesampai di tempat acara, orang-orang ramai menyesaki wilayah bawah kanopi beratap terpal biru yang berada tak lebih empat meter dari pintu warung makan. Terlihat pita merah terikat di pintu masuk warung makan berkaca tebal dengan buhulan berbentuk hati di tengahnya, menunggu sebuah gunting yang akan memotong bagian tengahnya sebagai simbol peresmian. Mobil-mobil terparkir rapi di pinggir trotoar.
Seorang dengan rambut gondrong berbaju hitam dengan tulisan kuning keemasan di salah satu kantong baju: Makassar TV, menyoroti suasana warung makan dengan kamera yang membebani pundaknya. Macam-macam baju safari dan kantor lalu-lalang: pegawai foto kopi bercengkerama dengan pegawai kantor swasta, prajurit Angkatan Darat berbincang ringan dengan Polisi Wanita, anak-anak kecil bermain-main di balik kursi, ibu-ibu gempal berkerudung dengan pinggang bergelombang karenan selulit duduk rapi serupa patung, pelayan-pelayan ada beberapa yang berdiri rapi di samping pintu masuk yang bertuliskan SELAMAT DATANG, wartawan-wartawan yang mengerubungi seorang laki-laki berdasi dengan kamera dan alat perekam di tangan mereka.
Kami masih berdiri di pagar kain putih sepinggang, sambil mata terus menyatroni kursi-kursi kosong, namun semuanya terisi. Teman saya lalu menghubungi seorang teman yang berencana juga datang, dan jawaban yang tiba adalah: ia masih di danau Unhas. Entah sedang apa ia di sana. Kami juga mencari dua orang yang sama-sama berjanji untuk datang ke tempat itu. Mereka tak datang. Mata saya sibuk melanglang ke setiap wajah orang-orang, mungkin akan ada wajah yang saya kenali, namun tak satu pun yang saya kenali.
Tak berapa lama, para undangan dipersilakan untuk mencicipi makanan yang tersedia dalam wadah-wadah besi atas meja prasmanan, yang tersebar di beberapa tempat. Satu meja prasmanan di luar, dua di bagian dalam. Saya dan teman saya menunggu sebentar sampai kerumunan yang menuju ke meja prasmanan berkurang. Kami mencari tempat duduk, lalu duduk berdampingan. Beberapa menit kemudian kami beranjak menuju meja prasmanan, setelah melihat kerumunan yang tak terlalu berkurang namun makanan terancam habis.
Kami memilih untuk mengambil makanan di dalam saja. Kami masuk. Baru sampai di pintu, saya ditawarkan piring untuk makanan. Saya menyambutnya dengan tangan kanan. Saya melihat titik-titik yang saya kira manik-manik piring. Saat saya menyentuhnya, titik-titik noda itu melengket di ujung-ujung jari saya. Setelah noda-noda debu itu tersingkir dari piring, saya menyendok dua sendok nasi. Kemudian menuju wadah-wadah lauk: tak ada lauk, hanya sisa kari berlemak menempel di dinding-dinding wadah. Saya dan beberapa orang di tempat itu menunggu lauk yang datang. Tak berapa lama ayam tumis datang. Saya beruntung dapat dua bongkah ayam yang tak saya pikirkan lagi itu bagian apa dari ayam. Kemudian saya mengambil sambal. Sayur nangka saya dapatkan di sebuah meja makan yang dikelilingi beberapa orang yang sedang makan. Wah, curang. Di bagian lain kekurangan, tapi beberapa orang malah tak tahu malu menyimpan wadah-wadah lauk itu untuk diri mereka sendiri.
Sembari makan, mata saya berkeliling ke segenap penjuru. Dalam ruangan di dua sisi tembok yang berhadap-hadapan di warung makan Padang itu, beberapa lukisan terpajang. Yang paling khas adalah satu lukisan yang menggambarkan beberapa rumah gadang Padang: dinding-dinding dari bambu dengan atap melancip seperti rumah adat Toraja, Sulawesi Selatan. Ada juga dalam lukisan itu Jam Gadang Padang yang terkenal itu. Lampu-lampu Phillips yang ditudungi besi bundar yang melesak masuk ke langit-ke langit ruangan, nyaris semuanya menyala.
Saya bukanlah ahli perasa makanan. Saya hanya tahu makanan Padang terkenal dengan kari-kari berlemaknya. Hal itu saya dapatkan: ada terasa di lidah saya rasa-rasa kari yang berlebih namun cukup khas dari makanan yang pernah saya makan. Akan tetapi, menu-menunya tak saya temukan yang ‘berbau’ khas Padang. Menu-menu yang yang terpampang pada papan plastik di sisi kanan tembok dari arah pintu menyebutkan menu-menu yang sering kita temukan di warung-warung makan, bahkan di warung-warung kecil dan murah ala mahasiswa. Beberapa variasi nasi ayam, dari ayam goreng sampai ayam bakar. Begitu juga dengan nasi ikan, minuman dan lain-lain. Saya tak menemukan sebuah menu spesialis bergaya atau ber-istilah Padang.
Di samping menu-menu yang biasa itu, satu hal yang terpikirkan olehku: bisnisisasi makanan. Terlampau jauh saya punya pikiran, memang. Bayangkan, apa yang dilakukan warung makan itu bukanlah sebuah amal, itu hanya strategi pasar menggaet pelanggan untuk makan di tempat itu. Apa yang dilakukan warung makan Padang itu adalah berjudi. Memberi makanan ratusan orang dalam satu hari itu tentu memiliki pamrih, suatu saat akan kembali modal. Siapa-siapa saja yang datang? Orang-orang kantoran dan kalangan kelas menengah yang cukup makan. Berapa saja harga yang diterakan pada setiap makanan? Lihatlah ke arah papan menu itu: dari yang termurah Rp. 9000 sampai 15.000. Itu harga yang sangat tidak masuk akal bagi yang berakal, tapi mungkin masuk akal bagi yang bergengsi.
Dari itulah saya katakan semula, saya tidak menghadiri acara peluncuran warung makan, tapi numpang makan siang. Setidaknya menurut saya pribadi, menjamurnya bisnis warung makan adalah bentuk nyata hegemoni di mana kita disuruh seragam dalam berpenghasilan, dalam bersikap, dalam bekerja, dan menyempitkan gerak kemanusiaan kita untuk saling berbagi. Karena terlanjur semuanya dibentuk menjadi komoditas. Maka tak heran aktifitas Food Not Bombs, acara bagi-bagi makanan gratis yang dikelola secara swakelola, tanpa pamrih, tanpa kepentingan politis praktis, menjadi ancaman serius bagi warung-warung makanan seperti warung makan Padang itu.
Saat nasi saya akan segera habis, Amin, teman di UKPM bersama temannya datang. Alfa, teman yang ketika dihubungi katanya berada di danau Unhas, juga datang dengan temannya. Semuanya berpasang-pasangan. Seperti hitam dan putih, anjing dan kucing, kuda dan kerbau, CPU dan monitor…
Setelah makanan di atas piringku tinggal menyisakan kari-kari merah, saya dan teman saya beranjak keluar. Cuaca di luar sedikit mendung. Kami tak menunggu lama, akhirnya memutuskan untuk pulang ke PKM.
Menuju PKM, kami harus memutar jalur dan terpaksa harus menempuh perjalanan sedikit jauh sampai belokan di samping Makassar Town Square (Matos).
Di sepanjang perjalanan saya terheran-heran, begitu banyak warung-warung makan, tetapi kenapa kelaparan di sekitar kita masih saja memprihatinkan? Pasti ada yang salah dengan sistem. Pasti ada yang salah…
Sabtu, 2009 Januari 17
Saat Semesta Bicara pada Malam yang Beranjak Menua
BILA INGIN MENDENGAR SEMESTA BERBICARA, DUDUKLAH PADA MALAM YANG BERANJAK MENUA. Dentang-dentang jam terdengar bukan hanya sebagai bunyi, tapi adalah dongeng-dongeng pelacur tua yang semakin menawan seiring usia. Goyangan rumput tak lagi terlihat sebagai tarian, tapi adalah keresahan seorang musafir yang mencari teduh pepohonan yang kini terganti pohon-pohon beton menjulang langit. Bulan tak lagi tampak sekedar cahaya, tapi berkisah tentang perawan yang tak lagi berharga. Bintang tak lagi terlihat sebagai pijar, tapi berbisik tentang masa kecil yang terjual atas nama ‘bertahan hidup’. Bahkan kursi tempatmu bertumpu akan memberitahumu tentang makna pengorbanan dan senyum yang kini dijual dipintu masuk setiap toko-toko pakaian dan sebagainya. Dunia tak lagi luas ketika koran dan aneka media lainnya menyerbu setiap sudut kota dan perkampungan. Semuanya terasa begitu sempit dan sesak. Cinta hari ini tak lagi tercipta dari rindu, sebab jarak kini hilang bersama kabel yang mengirim suara dari kota ke desa. Bahkan kitab-kitab suci tak lagi bisa melerai setiap pertikaian, malah dijadikan alasan untuk membunuh. Hari ini tak adalagi yang berperang atas nama kebenaran, sebab simbol telah mengotak-kotakkan manusia. Dan kebenaran hanya milik segelintir orang saja.
Atas nama akal, manusia merusak segalanya:hutan, sungai, laut bahkan langit. Berkedok akal juga, manusia bebas mengumbar nafsu kebinatangannya. Hingga malampun tak lagi berkisah tentang gelap yang mengirim suara jengkerik dari balik bebatuan dan rerumputan dibelakang kebun, tapi tentang kerlap-kerlip cahaya yang mengirim bising mesin pada telingamu pekak. Dirimu tak lagi menjumpai awan putih dan mengajakmu berimajinasi. Sebab langit telah berganti hijab asap-asap pabrik dan sibuk pesawat terbang berlalu-lalang. Hanya semesta yang masih setia menceritakanmu sejarah yang tragis dan sedikit menyakitkan. Sebab semesta adalah saksi yang hanya bisa diam melihat semua periode dan parade hidup. Jangan pernah bertanya mengapa semesta tak pernah mau bicara siang-siang begini. Sebab terlalu banyak yang terlihat pada siang. Terlalu banyak cakap bising tak berguna. Sedang rahasia adalah diam, tenang dan hening. Dan malamlah yang bisa menyimpan rahasia.
Dan kau hanya bisa mendengar semesta berbicara saat kau duduk pada malam yang beranjak menua.
*****
SEGALA SESUATU AKAN BERUBAH. ITU PASTI. Tak terkecuali kamu. Usia akan mengirim osteoporosis pada sendi-sendi tulang kakimu, hingga hangat embun yang jatuh di halaman rumahmu tak lagi bisa kau rasakan dinginnya. Usia juga akan menjatuhkan alopecia di kepalamu dan melibas lebat rambutmu. Usia pula yang akan memberi amnesia pada ingatanmu, hingga kau tak lagi bisa berromantisme mengingat kisah-kisah lewat perjalanan hidupmu. Pada akhirnya usialah yang mengantarmu pada maut yang menari di langit-langit kamarmu. Ucapkan selamat tinggal pada dunia.
Namun perubahan akan selalu menagih cerita. Cerita masa-lalu yang kau tinggalkan. Dan mengajakmu berbincang tentang sebuah makna. Makna yang kau petik dan makna yang kau rencanakan.
Hidup memang adalah sebuah perjalanan. Perjalanan menghitung jejak kaki yang tertanam di pasir-pasir pantai. Membilang anak tangga yang terlewat kaki-kaki mungil dan kelelahan. Menjumlah bintang-bintang di angkasa, berapa banyak yang lahir dan berapa banyak yang jatuh. Dan berapa banyak bulir keringat yang telah kau lahirkan pada perjalanan di siang terik. Hingga kau berhenti di satu titik, kau akan ditanya dan di suruh menyerahkan secarik kertas yang berisi kisah-kisah dan rute-rute perjalananmu.
Sungguh hidup tak lebih dari permainan mencari jejak di hutan-hutan lebat, mata harus peka terhadap semua tanda yang telah didedah di segala penjuru semesta. Sebab, satu jejak saja yang terlewat mata, boleh jadi kita akan kesasar dan terjebak selamanya dalam hutan. Hidup adalah seni menebak mimpi dan menjelmakannya dalam angka-angka ganjil dan genap. Hidup adalah menguasai hukum tawar-menawar. Dan hidup adalah kekalahan manusia atas iblis di surga. Dan setiap kekalahan harus membayar mahal kepada pemenang. Sayang, kita selalu tak pernah bisa belajar dari kekalahan.
Lahir, hidup lalu mati. Di manakah makna berada?. Atau hidup adalah nihil, dan setiap perjalanan fragmen hidup adalah memerangi kenihilan?.Di mana dan untuk apa kesetiaan dan keikhlasan, bila semuanya akan berakhir pada kematian?. Apa benar apa salah?. Adakah namanya tujuan, jika setiap sesuatu yang dianggap akhir ternyata adalah awal?.
Tapi setiap perubahan akan selalu menagih cerita.
Siapkan karangan hidup terindahmu.
******
DETIKLAH YANG MENGANTARKU PADA MENIT, BUKAN JAM. Sebab detik adalah seribu langkah yang jatuh dan bangun tiada henti. Hingga menit menjemputnya pada titik langkah sempurna. Sedang jam adalah penantian tak pasti dari janji yang diikrarkan pagi-pagi sekali. Detik tak pernah mempedulikan menit yang terus-menerus mengambil seribu langkahnya. Sedang menit selalu bertengkar dengan jam yang mencuri jejaknya yang diambilnya dari detik. Detik terus berjalan membuat langkah-langkah baru. Detik adalah pengorbanan yang terlupa. Detik sangat paham bahwa pahlawan sejati tak perlu berharap lencana disemat di atas kantong baju di kemudian hari. Detik tak pernah berpikir untuk berhenti sejenak dan membuat harapan dari mimpi siang hari. Sebab selangkah saja dia istirahat, menit dan jam akan kehilangan satu langkah pula.
Tuhan, aku ingin menjadi detik. Melewati hari-hari dengan langkah sederhana. Tanpa pernah bermimpi membuat sebuah langkah yang mampu melewati gunung. Tanpa pernah bermimpi membuat surga dari beton-beton dan menantang langit. Cukuplah sebuah danau jika aku haus. Sebatang pohon rindang bila aku kepanasan. Dan sesungging senyum gadis desa bila aku kasmaran. Cukuplah itu semua. Jikapun itu dianggap terlalu berlebihan, biarlah nafas menghirup udara pagi di padang rumput yang hijau sehabis hujan.
Mungkinkah semua terjadi? Atau aku yang terlambat bermimpi?
Sepertinya dunia hari ini melarang kita untuk bermimpi. Mimpi hari ini telah dimuseumkan dalam lemari-lemari kaca. Mimpi dijual dengan harga mahal di toko serba ada. Mimpi dipatenkan dalam hukum dan undang-undang hak-hak privasi. Jika pada suatu malam kamu bermimpi yang sama dengan apa yang diimpikan orang, kamu harus membayar royalti karena dianggap telah melanggar hukum dan undang-undang hak privasi. Orang-orang yang mampulah yang bisa memiliki mimpi. Selebihnya hanya bisa melongo seperti anak kecil yang memandang boneka di etalase toko dan minta dibelikan pada bapaknya yang maling.
Hari ini, hati-hatilah bermimpi.
Tapi malam ini, tak ada satupun yang boleh melarangku bermimpi melayang di awan.
******
MALAM INI, INGIN AKU KEMBALI DUDUK PADA MALAM YANG BERANJAK MENUA. Mendengar kembali cerita semesta. Melupakan semua mimpi dan hidup yang runyam dan kelam. Sebab boleh jadi, akan ada satu spirit yang akan diberikan semesta padaku. Spirit yang memberi kekuatan menghadang osteoporosis yang hendak melumpuhkan kakiku. Kekuatan yang menyuburkan rambut di kepalaku dan menunda alopecia. Serta kekuatan yang meluluhlantakkan amnesia yang berniat menghapus memori di otakku.
Di balik keputusasaan pasti ada harapan. Harapan yang lahir dari keinginan, rindu, dendam dan amarah. sebab cinta adalah laku, bukan kata. Maka semua tak cukup hanya dengan ucapan dan teriakan. Harus bergegas bangun sebelum matahari padam oleh laut sore hari.
Malam ini kembali aku duduk pada malam yang beranjak menua. Mendengar kembali segala cerita semesta.
Cerita semesta masih sama seperti pada malam sebelumnya:dongeng-dongeng pelacur tua, keresahan musafir yang rindu rindang pepohonan, perawan yang tak lagi berharga, masa kecil yang terjual dan senyum yang masih dijual di pintu masuk toko-toko pakaian. Semua masih sama. Tak ada yang berubah. Selain malam yang semakin menua, dan aku yang mulai lelah.
Pendar lilin yang perlahan lindap sebab umurnya yang kian pendek, tak bercerita apapun padaku. Mungkin apa yang hendak dikatakannya telah didahului semesta. Sehingga dia hanya bisa diam seperti aku, mendengar semuanya bicara. Dia tetap setia menemani kesendirianku. Meski kadangangin malam meniup cahayanya hingga nyaris padam. Entah, dia setia menyala untuk siapa. Malam ataukah aku?. Aku tak terlalu ambil pusing. Yang jelas, cahayanya menemani sendiriku, hingga aku merasa tak terlalu kesepian.
Malam semakin menua, dan aku mulai lelah. Saatnya beranjak bangun dari kursiku. Meninggalkan segala cerita yang diberikan semesta. Namun aku tak tahu pesan apa yang hendak disampaikan semesta padaku, sebab hanya dongeng dan cerita yang sedikit melankolis yang dia berikan.
Dan kini batang lilin telah habis benar. Tapi pagi segera mengirim putih kepada semesta. Aku segera bangkit dari kursi yang kududuki. Sebab hari menanti tangan-tangan yang menghiasinya dengan bunga-bunga dan nyanyian, bukan bom dan ledakan. Hari selalu menjanjikan surga dengan mentari dan kicau burung. Meski manusia telah mengotori sungai, laut, danau dan hutan semesta.
Kakiku perlahan kulangkahkan pada tanah berumput dan berembun. Dingin. Menusuk hingga ketulang kaki. Rerumputan menggelitik telapak kakiku. Seperti gelitikan ibu di perutku saat gemas ketika aku masih bayi. Wajahku yang semula hitam oleh malam, kini telah terbasuh pagi.
Kulanjutkan langkahku menuju halaman rumah. Perlahan. Sebab dingin embun dan gelitik rerumputan ingin benar aku nikmati. Hanya pagi yang bisa memberikan ini semua.
Sebab begitu hidmat aku menikmati semua persembahan pagi ini, hingga genap pada langkah ke enamku, kudengar lamat-lamat bisikan kecil terdengar dari tanah yang kupijak.
“selamatkan aku, hai musafir”.
Makassar, 2008
Sabtu, 2008 Oktober 25
SYAIR PERANG MENGKASAR

Diskusi dan Bedah Buku
Pembicara
Agussalim Burhanuddin | HI - Unhas
Ahyar Anwar | Sastra - UNM
Aslan Abidin | Makassar
Edward Poelinggomang | Sejarah - Unhas
Muhlis Hadrawi | Sastra - Unhas
Nurhady Sirimorok | Ininnawa
SM Noor | Hukum - Unhas
Wahyuddin Halim | Usluhuddin - UIN Makassar
Moderator
Dahlan | Tribun Timur
Ishak Salim | AcSI
Nur Alim Djalil | Fajar
Supa Ata'na | Iranian Corner
Tempat dan Waktu
Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Universitas Hasanuddin
Jl Perintis Kemerdekaan Km 10 Tamalanrea Makassar
27 - 29 Oktober 2008, pukul 09.00 - Selesai
Penyelenggara
Penerbit Ininnawa
Komunitas Ininnawa
Cafe Baca Biblioholic
Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unhas
Didukung Penuh oleh
Information Disseminate Institute | Taksi Putra | Panyingkul!
> *Acara ini dirangkai dengan PASAR BUKU MURAH, MUSIK, dll.
Minggu, 2008 September 14
Ada yang Mencuri Hangat Teh Malam Ini
Malam ini seperti mati. Tak ada aktifitas yang menandakan kehidupan masih berjalan. Jalanan lengang. Setiap sudut tiba-tiba diam. Hujan siang tadi masih menyisakan air yang menggenang di parit atau jalanan yang berlubang seperti kubangan kerbau di sawah-sawah. Udara dingin memaksa setiap orang untuk tetap tinggal di rumah dan duduk di perapian bersama sanak keluarga, sahabat dan teman terdekat. Atau bila harus keluar, maka jaket harus turut membalut kulit tubuh yang diserang dingin. Barangkali setiap orang punya cara sendiri untuk mengusir dingin. Apapun yang mengandung hangat akan menjadi kekasih yang dicari-cari pada malam ini.
Nuansa putih pada tembok di ruangan berukuran tiga kali empat meter ini, dengan neon yang bergumam pelan, rak-rak dengan buku-buku di atasnya, pigura-pigura foto keluarga yang di belakangnya bersembunyi seekor cecak, serta sunyi yang sempurna mendekap masuk ke dalam ruangan di otakku yang mulai sesak oleh berbagai kenangan yang membusuk. Ada cerita yang tercipta saat tiba-tiba teh di hadapanku menjadi dingin seperti malam ini. Siapa yang mencuri hangatnya, aku tak tahu.
Barangkali setiap orang akan berpikir bahwa dinginlah yang membunuh hangat pada teh. Seperti api disirami air. Akupun berpikir demikian. Sebab, bagaimanapun alasan itu sangat rasional dan masuk akal. Malam ini, tepat pendulum jam singgah pada angka sempurna, ada yang mencuri hangat teh di atas mejaku. Sebuah pencurian yang sempurna. Sebab tak tersisa sedikitpun hangat dalam pahitnya. Seperti cinta yang dititipnya pada hari-hari lewat, kini telah dibawanya tanpa sisa. Meski sekedar untuk diimpikan pada malam-malam yang kejam. Saat bulan membunuh pijar bintang yang hendak bersinar. Saat burung hantu membawa berita tentang kematian. Saat anjing-anjing melolong pada malam buta di lorong-lorong.
Ada yang mencuri hangat teh malam ini. Siapa yang mencuri hangatnya, aku tak tahu. Sebab, aku tak menerima seorangpun tamu pada malam ini. Tak seorangpun yang mengetuk pintu, mengucap salam lalu segera pergi saat hujan sudah reda. Jendela telah kututup rapat saat seorang mengingatkan aku pada siaran malam dalam radioku yang sudah mulai renta. Tempias dari air hujan yang terpecik di kaca jendela masih melekat dan mengintip dari luar. Lalu siapa?
Saat hangat teh tiba-tiba hilang, ada cerita yang tiba-tiba muncul di atas langit-langit kamarku. Di tembok, lemari, buku-buku, meja, jendela, pintu, halaman rumah dan cangkir dengan ukiran naga menjelma kisah saat pandang melata di atasnya seperti ular sanca menari-nari di atas daun-daun di belakang kebun. Kisah dari cinta yang pergi pada subuh hari. Sebelum embun menyerah dan kalah pada matahari. Dan kisah itu bermula dari hangat teh yang tiba-tiba hilang.
Jika cahaya neon dihalangi dengan benda di atasnya, maka bayang-bayang dari benda itu akan jatuh ke mana-mana. Seperti itu pula pikiran jika telah dijejali dengan berbagai macam kenangan. Setiap benda yang terlihat akan menjelma kenangan itu. Seperti mata ketika telah dimasuki bayang-bayang. Setiap sesuatu menjelma bayang-bayang itu saat pandang jatuh pada segala arah.
Jika hanya beberapa saat saja hangat teh bisa hilang, betapa dahsyat dingin itu. Sedahsyat amnesia yang membunuh kantuk pada malam hari. Sedahsyat embun menyuburkan bunga-bunga sebelum matahari terbit. Dan sedahsyat kanker yang bersarang di otakmu dan mengambilmu dariku di ujung dipan pada sebuah rumah sakit. Genggaman tanganku pada tanganmu ternyata tak bisa lagi menunda takdirmu untuk segera pamit. Padahal kisah belumlah sempurna tercipta. Terlalu banyak hal yang belum kau ketahui.
Seandai tak ada yang mencuri hangat teh malam ini, barangkali tak ada cerita yang menyeruak. Tak ada kisah yang membuncah tiba-tiba. Seperti kebohongan yang ditimbun pada bak sampah yang sudah mulai sesak. Dan udara yang terus-menerus terisi pada balon yang dibeli dari kedai tetangga. Atau air dalam ember yang telah penuh oleh hujan sore hari. Sementara ada yang mengukir kesetiaan pada janji tak pasti. Menyerahkan mimpi sepenuhnya pada pembohong. Menulis keikhlasan yang menzarah pada bibir pantai dan langit biru, barangkali adalah sebuah kesia-siaan. Namun bagimu adalah sebuah pengorbanan yang sangat manis. Sementara ada pula yang menulis tentang sebuah pengkhianatan dan perselingkuhan. Dan tak jarang kebohongan adalah cara yang tepat untuk memelihara pengkhianatan dan perselingkuhan. Dan kau tak pernah tahu itu.
Pernah ada malam yang dingin seperti malam ini, kau datang melalui kabel dari rumahmu menuju rumahku. Suaramu merdu dari seberang. Kau tanya kabar. Dan tak lupa kau bertanya tentang kesetiaan dan rindu yang menggebu-gebu. Aku jawab, aku masih rindu dan tetap setia. Jawaban ini kuucapkan dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sehabis percakapan singkat kita, kau tak tahu bahwa seeorang perempuan telah menanti rangkulanku yang akan mengusir dingin di tubuhnya di sofa di ruang tamu. Dan selalu kau menanyakan itu saat malam menjadi dingin sehabis hujan. Selalu pula ada perempuan lain yang menungguku di sofa.
Masih pula kuingat saat aku hendak pamit keluar kota bersama teman-temanku. Bertamasya mengelilingi dan menyaksikan pemandangan indah pada sebuah bukit. Melukis gadis yang baru saja kukenal di hadapanku, sambil sesekali memuji lekuk tubuhnya, dari rambut hingga ujung kaki. Dan sepulang dari sana, kau masih sempat menanyakan kabar dan pertanyaan yang biasa kau tanyakan. Dan jawabanku masih tetap sama seperti pertanyaanmu. Sesekali aku menggerutu, kau terlalu mendewakan kesetiaan. Sementara hidup adalah untuk dinikmati. Apa yang membuatmu begitu mengagungkannya, hingga kau pergi, masih saja kau lemparkan pertanyaan itu?
Kepercayaan, katamu, adalah hal yang membuatmu bertahan. Dan juga, tambahmu, kesetiaan mampu merobohkan dinding yang terbuat dari baja sekalipun. Aku hanya mengangguk kala itu. Dan kau selalu layarkan kecup lewat suara yang kau kirim ke rumahku sebagai hadiah sebelum tidur. Kau selalu ingatkan aku untuk berdoa dahulu. Doa senantiasa akan menghadirkan mimpi indah kedalam tidur, katamu suatu waktu.
Sampai umurmu harus usai pada malam itu, kesetiaan yang kau katakan benar-benar telah menghancurkan dinding yang selama ini kubangun dari kebohongan dan pengkhianatan. Aku harus berbohong untuk terakhir kali, aku terpaksa. Sebab aku tak ingin kebohongan sebelumnya membuatmu kecewa dan tak nyaman untuk pergi. Kebohongan kali ini bukan karena pengkhianatan, tapi karena rasa yang mulai menyelinap masuk melalui urat nadi menuju jantungku. Dan kulihat kau tersenyum lega saat mendengar kebohongan itu. Sepertinya hidupmu hanya untuk mendengar dan mempercayai kebohongan dariku. Kau tak bertanya apa-apa lagi padaku. Matamu tertutup seperti hendak menjumpai mimpi dari doa-doa yang selalu kau katakan padaku.
Sampai saat ini, jika hendak tidur aku selalu berdoa dahulu. Memohon Tuhan mengirimmu kembali padaku, meski hanya dalam tidur semalam.
Hingga malam masih saja dingin oleh hujan sore hari, aku belum menemukan siapa yang mencuri hangat tehku. Barangkali angin, atau waktu pada jarum jam. Atau barangkali hangat menolak bercumbu dengan teh. Hingga dia putuskan untuk pergi mencari sesuatu yang lain. Hangat ternyata tak setia pada teh malam ini. Buktinya dia harus menghilang dari seduhan. Aku harus mencari kehangatan pada yang lain. Sebab malam ini teh tak lagi hangat.
Sepertinya ada yang menekan angka-angka pada telepon umum di pinggir jalan, dan mengirim bunyi untuk segera diangkat. Aku harus bergegas, sebab mungkin ada jawaban atas pertanyaan akan siapa yang mencuri hangat tehku, atau mungkin dialah pencurinya.
Suara di seberang mengirim angin yang berhembus kencang. Bumi seperti berguncang. Aku terdiam terpaku seperti patung yang terpasung dan tertanam di tengah-tengah kota, saat sebuah sapaan yang sepertinya kukenal muncul dari seberang.
”Selamat malam. Apa kabarmu? Kau masih rindu aku, kan? Ingat, jangan lupa berdoa sebelum tidur!”
Tiba-tiba sekeliling menjadi gelap.