Senin, 21 September 2009

Percakapan Tentang Mimpi-Mimpi Kecil

Jumat, 06 Maret 2009
Aku begadang lagi. Jam empat subuh baru bisa tertidur. Sementara saya mesti cepat bangun untuk ke kampus menjadi pembicara dalam acara diskusi: Budaya Mahasiswa”. Sebetulnya acaranya siang, seusai jumatan. Namun, berhubung saya harus membaca beberapa referensi dan berniat diskusi dengan teman-teman mahasiswa (ceilee…), saya niatkan untuk bangun pagi.
Malamnya saat aku telat tidur, kejadian yang sedikit mendebarkan saya alami. Itu bermula dari SMS yang dikirimkan Reza—saya memanggilnya Eca—lewat HP-nya ke nomornya Ana, junior saya di UKPM. Saya memang meminta dia men-SMS Ana memakai nama saya. Saya minta Ana membawa jurnal Pendidikan Popular yang ia pinjam untuk saya baca sehari saja, untuk referensi dalam rangka menjadi pembicara diskusi di Fakultas Ilmu Budaya. Ana mejawab, “iya, saya akan membawanya besok jam delapan.” Dan tanpa sepengetahuan saya, Eca me-replay jawaban SMS itu dengan kalimat kurang lebih seperti ini: iya, kalau masih tidurko, nanti biar Fahri yang jemput itu buku. Terima kasih de’na.” Muhamma’, kontan saja saya marah pada dia. Kamu jangan bikin konflik antara saya dengan Ana. Saya tak mau terlibat seperti yang lainnya dalam mencandai Ana dengan Fahri. Saya tak mau terlibat.
Rasa khawatir Ana akan berubah sikap kepada saya semakin bertambah ketika Ia tidak lagi membalas SMS terakhir itu. Eca, Eca. Kau betul-betul…
Dan akhirnya saya bangun pukul delapan pas. Turun ke lantai dasar, menuju PKM 2. Di sana saya menyetel beberapa lagu—tentu saja masih Efek Rumah Kaca sebagai andalan—dan mendengar sesaat. Lalu mandi.
Seusai mandi, saya ke kampus. Saya menenteng jurnal wacana insist yang dibawa Ana dan saya temukan tergeletak sendiri di atas meja dengan judul: pendidikan popular. Ada beberapa penjelasan tentang paradigma pendidikan serta pengaruhnya terhadap konsep/kurikulum dan pelaksanaan pendidikan. Dan saya anggap hal itu penting untuk dijelaskan dan didiskusikan bersama-sama terkait dengan budaya mahasiswa. Agar teman-teman mahasiswa—ceilee…sekali lagi—tahu dan terus ingat tentang watak pendidikan yang mereka hadapi. Ini penting, agar corak segala macam usaha dan pergerakan yang akan dibawa—dan dibudayakan—memiliki target yang jelas dan terarah. Yah, semacam mengingat adagium lawas: kenali musuhmu dengan sungguh-sungguh.
Orang pertama yang saya temani berdiskusi adalah Yusuf, kami di Himpunan Ilmu Sejarah memanggilnya Ucu. Ia junior saya di Jurusan Ilmu Sejarah angkatan 2003. Awalnya ia membaca judul jurnal yang saya bawa. Lalu berkomentar dengan bertanya:
“Menurut ta’, apa yang bermasalah di pendidikan sekarang.”
“Mahal. Ongkosnya mahal.”
“Selain itu?”
“ada banyak. Tapi, itu yang paling bermasalah.”
Lalu ia memberi pendapat. Menurutnya, pendidikan sekarang membuat kita (mahasiswa) lupa dengan asal-usul kita. Ia memberi perumpamaan dari pengalamannya sendiri. Katanya, di daerah tempat ia tinggal, Belopa, Palopo, banyak tanah-tanah terbengkalai. Itu disebabkan tak ada lagi orang-orang tua yang mampu menggarap tanah mereka. Sementara anak-anak mereka ada yang kuliah, dan yang telah lulus justru lebih tertarik menjadi pegawai negeri.
“Dalam buku ini ada menjelaskan sedikit tentang hal itu,” kataku, mengangkat buku itu dengan sebelah tangan. “Dikatakan bahwa, salah satu paradigma pendidikan yaitu paradigma liberal, menginginkan kurikulum pendidikan disesuaikan dengan keinginan dunia industri.”
“Benar. Sarjana pertanian tidak lagi tertarik untuk kembali ke desa dan membangun dunia pertanian yang berguna bagi petani.”
Pembicaraan kami menjadi panjang, berkelok-kelok, bersahut-sahutan, tapi menarik. Kami saling berbagi pengalaman tentang daerah kami terkait dengan pendidikan. Sampai pembicaraan pamungkas pada keinginan-keinginan dan mimpi kecil yang baik untuk dicoba.
“Menurutmu, hal apa saja yang mesti dilakukan dan terus dibudayakan oleh seorang mahasiswa?” tanya saya.
“Kalau saya pribadi, hal terkecil yang akan saya lakukan adalah berbagi pengetahuan baik lewat bacaan atau yang lain kepada orang yang membutuhkan.”
Lalu ia bercerita tentang masa KKN-nya. Katanya, program yang ia jalankan waktu KKN adalah membangun perpustakaan rakyat. Ia membangun perpustakaan rakyat itu di Musholla, dengan pertimbangan kalau ia dan teman-teman KKN-nya ditarik oleh Universitas untuk kembali ke kampus, akan ada orang yang menjaganya.
Seusai pembicaraan saya dengan Ucu, tema beralih ke masalah sekolah menulis yang diadakan oleh teman-teman Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Makassar. Tema itu saya bicarakan dengan Irfan. Kebetulan Irfan, seorang dedengkot PMII, datang. Saya segera menyampaikan ide yang saya dapatkan selepas materi minggu terakhir lalu.
“Irfan,” sapa saya sambil merapikan duduk saya di sofa merah yang kusam,”saya punya ide terkait sekolah menulis teman-teman.”
“Hmm…,”gumamnya sembari meletakkan tas kecil hitam bertuliskan BIKES NOT BOMBS,”apa itu?
“Begini. Sebetulnya beberapa pertemuan yang telah dijalani, saya masih gamang tentang mau dibawa ke mana kita punya sekolah menulis. Awalnya saya hendak membawa sekolah menulis ini ke penulisan fiksi, tapi saya pikir belum saatnya. Tapi, di beberapa pertemuan, teman-teman sering menyentil satu aktifitas di TPA (Tempat Pembuangan Air: daerah tempat banyak pemulung mencari nafkah di Antang) itu yang dilakukan beberapa teman-teman. Nah, saya jadi berfikir bagaimana kalau daerah itu kita jadikan proyek penulisan saja, dan sekolah menulis teman-teman diarahkan ke pelatihan etnografi.”
“Wah, bagus itu,” ia lebih mencondongkan wajahnya ke arahku, antusias,”saya sangat sepakat.”
“Bung Irfan hari Minggu lusa tidak punya kesibukan, kan?”
“Hmmm, tanggal berapa itu hari Minggu?”
“Tanggal Sembilan.”
“Oo, bisa, bisa.”
“Supaya kita bicarakan sama-sama kurikulumnya. Juga agar ada orang yang bisa memandu dan punya proximitas lebih kepada teman-teman nanti.”
“Wah, Ded. Kalau betul begitu konsepnya, saya harus ikut.”
Lalu ia bercerita bahwa ia sangat ingin menuliskan hal-hal yang bergaya etnografi. Meskipun latar pendidikan tingginya adalah Antropologi, ia masih awam dengan dunia etnografi. Ia bertanya banyak hal tentang etnografi, dan aku menjawab alakadarnya, yang mampu kujawab dengan menarik kembali ingatan ketika mengikuti kelas etnografi bersama teman-teman di Ininnawa, dipandu Nurhady Sirimorok, penulis dan penerjemah yang pada saat itu baru pulang dari liburan semester kuliah S2-nya di Belanda.
Pembicaraan itu harus berjeda sebab Irfan yang berniat shalat jumat.
Bersama segelintir orang di kantin sederhana samping himpunan Ilmu Sejarah, aku tak sholat, dan harus rela menerima cercaan nyinyir dari mace’ yang dengan wajah cemberut menyuruh kami untuk sholat. Aku tak menggubrisnya. Bahkan beberapa kalimat aku jawab dengan hal-hal yang konyol. Dari alasan aku adalah muhammadiyah—selalu sholat jumat sehari sebelum jumat dalam kalender pemerintah—sampai dengan alasan aku hendak pindah agama.
Untuk alasan terakhir, aku jadi berfikir,”jangan-jangan, secara tidak disadari, aku memang telah pindah agama. Atau malah tak lagi percaya pada agama.”
Wah, ini kacau. Sangat kacau. Cukup aku saja yang tahu. Tapi, bisa jadi benar…

Sekolah Menulis dan Kerinduan akan Hujan

Senin, 09 Maret 2009
Kemaren saya alpa menuliskan catatan aktifitas seharian. Bukannya malas, cuma ada sedikit permasalahan teknis yang tak bisa dihindari: sepulang dari membawakan materi penulisan di BTP, saya bersitirahat. Lalu sekitar maghrib menjelang isya, lampu tiba-tiba mati nyaris bersamaan dengan gemuruh hujan disertai angin kencang dan petir menggelegar. Otomatis saya tak bisa menulis di komputer.
Sekitar dua jam kemudian, lampu menyala. Hujan tinggal gerimis. Tapi, saya tak langsung menuju ruang Caka FM (tempat file catatan ini tersimpan). Saya menuju himpunan, dengan mengenakan celana bola orange. Untuk melindungi kepala dari gerimis, saya menyilangkan sarung saya di atas kepala. Dan dalam buntalan sarung bagian bawah, saya menyimpan sebungkus sarimie goreng untuk disiram di himpunan, karena sebelumnya saya lihat ada nasi yang dimasak di ricecooker.
Di himpunan, beberapa orang tengah main domino, dan beberapa tengah menonton televisi. Segera saya siram mie goreng yang saya bawa dengan air panas dari dispenser.
Mie telah masak. Saya pun makan dengan lahap. Hmmm…
Seusai makan, saya kembali ke PKM. Selang beberapa lama, saya menuju lantai atas PKM 1 tempat ruangan Caka FM berada. Berniat menuliskan catatan harian yang disepakati untuk ditulis setiap harinya. Namun, disayangkan sekali. Aco, ketua UKPM yang baru, memakai computer untuk menuliskan beberapa catatan harian menyangkut organisasi.
Berniat menunggu, saya membaca sambil tiduran di samping ruang siar dekat jendela sebuah buku yang berjudul Dua Titik Pusat: Dua Narasi. Itu buku catatan perjalanan ke Afrika dan Venezuela yang ditulis oleh penulis dan sastrawan asal India, Vidiadhar Surajprasad Naipaul. Naipaul juga salah satu penerima Nobel sastra, aku lupa tahunnya.
Begitu lama saya menunggu, saya jatuh tertidur. Saat itu kira-kira sudah jam 2 lewat. Saya tertidur tanpa rencana. Tiba-tiba saja. Mungkin karena seharian berada di ruang panas dan gerah saat membawakan materi di BTP itu. Saya memang begitu. Tanpa olah raga pun, jika terlalu berkeringat, saya cepat merasa capek. Dan jika saya capek, bawaan saya selalu mengantuk.
Saya tertidur, tanpa tahu saya telah bermimpi apa…

****

Minggu, 08 Maret 2009. Siang yang agak menyengat. Matahari yang melengket di jendela ikut pula menjilati punggungku yang telanjang. 12.00 wita. Seseorang menyentuh lembut pundakku. Cukup lama, hingga aku terjaga. Itu Arfah, anggota PMII. Tanpa bertanya, aku tahu ia datang menjemputku. Menjemput untuk membawakan materi tentang menulis di BTP. Aku harus bangun. Enam jam tidur itu sudah cukup. Jangan terlalu lama, itu tak baik untuk kesehatan.
Setelah menenangkan pikiran sehabis bangun, saya mengajaknya ke lantai bawah. Saya menyuruhnya menunggu sejenak, sebab saya harus mandi dulu. Biar tak gerah. Biar bawa materinya bergairah. Bukan begitu?
Ia menawarkan aku untuk mandi di BTP saja. Aku menolak tanpa memberi alasan.
Di kamar mandi, saya sempat berpikir: untuk hari ini, apa lagi, ya, tema yang hendak dan sebaiknya disampaikan? Oh, iya. Saya lupa memberi tahu Umar untuk mencari beberapa edisi Koran untuk bahan permainan menulis di sekolah menulis hari ini. Saya juga baru mengingat ada tugas yang saya berikan minggu lalu. Apa itu? Oh, iya, itu tentang mewawancarai seseorang. Akan tetapi, isi tulisannya bukan tentang orang yang diwawancarai, melainkan tentang benda atau sesuatu—entah itu benda hidup atau mati—yang disayangi atau sangat dihargai oleh orang yang diwawancari itu.
Untuk apa tugas dan permainan itu? Baik, akan saya jelaskan, saudara dan saudariku. Jangan khawatir, akan saya jelaskan. Koran-koran yang saya suruh cari, gunanya untuk mencari beberapa artikel pendek. Saya menyarankan terutama Koran Kompas. Di setiap edisi, kecuali hari minggu, Kompas mempunyai kolom bernama: Kilasan Kawat Dunia. Kolom itu sering memuat berita-berita unik, lucu dan menarik dari berbagai belahan dunia. Nanti, artikel-artikel itu akan dikelompokkan menjadi dua kelompok. Nah, nantinya, para peserta diminta untuk mengambil masing-masing satu artikel pada kelompok yang berbeda. Jadi mereka akan memegang dua artikel yang berbeda. Tugasnya kemudian adalah membuat sebuah karangan, baik itu fiksi ataupun non-fiksi, dengan memasukkan dua tema artikel yang mereka pegang.
Untuk tugas yang saya berikan minggu lalu: menguji mereka sejauh mana mereka menggambarkan sebuah benda memiliki peran tersendiri dalam hidup seseorang. Apalagi jika benda kesayangan itu adalah benda mati, sang penulis akan ditantang untuk menulis benda itu selayaknya manusia, yang memiliki riwayat panjang, narasi hidup tersendiri.
Seusai mandi, saya segera naik ke lantai dua PKM I. seingatku, ada tumpukan Koran di salah satu sudut dekat kamar mandi, yang tak lagi terpakai. Saya menyortir beberapa edisi Koran. Sekitar belasan edisi Koran aku tumpuk dan kubawa turun. Koran itu aku minta kepada Arfa untuk menaruhnya di tasnya. Kebetulan tasnya sedikit lowong.
Dengan kunyahan relaxa di mulutku yang baru saja aku beli dengan koin lima ratus—untuk menyegarkan lorong mulut—segera kami berangkat menuju BTP. Tanda-tanda gerimis mulai muncul sesampai di daerah BTP. Kaki saya cukup pegal karena motor supra yang kami kendarai tak memiliki stang kaki belakang. Saya pun harus hati-hati jangan sampai ujung-ujung jari kaki menyentuh aspal. Jika sampai terkena aspal, tentu sakitnya akan saya tanggung sendiri.
Setelah melewati jalanan yang tergenang bagai kubangan kerbau di sawah-sawah, kami tiba di BTP blok E (saya lupa nomornya). Tak lebih dari lima orang di beranda rumah. Satu orang dengan laptop di pangkuan, tengah mengetik tuts-tuts dengan pelan. Ia memberi-tahuku bahwa ia tengah mengerjakan tugas yang diberikan minggu lalu. Siapa yang diwawancarai? Umar, jawabnya.
Ketika saya melongok ke dalam, ke ruangan yang paling luas tempat sekolah menulis biasa berlangsung yang berhadap-hadapan dengan dua kamar tidur, beberapa kasur masih tergelar dengan beberapa orang yang berjejer tidur di atasnya, bagai ikan yang dikeringkan di kampung-kampung nelayan.
Umar, selaku ‘kepala sekolah’, berteriak ke arah ruangan meminta ‘sahabat-sahabat’—sebutan dan sapaan khas untuk orang-orang di kalangan aktifis PMII—untuk bangun, karena fasilitator yaitu saya sendiri, telah datang. Sekolah menulis akan segera digelar.
Menunggu mereka bangun, saya meminta Umar untuk memilih artikel-artikel pendek, tentu tak lupa untuk artikel di kolom Kilasan Kawat Dunia, Kompas, lalu digunting. Kami menggunting sekitar 14 artikel untuk masing-masing dari kelompok artikel yang berbeda. Artinya, ada 28 artikel yang tergunting.
Di sela-sela menggunting Koran, Arfa menunjukkan aku beberapa naskah puisi terbarunya di monitor laptop. Kalau tidak salah ada empat naskah puisi di sana: Tetesan Waktu, Puisi untuk Chaeril Anwar, Puisi untuk Guru, satunya lagi saya lupa. Judul-judul sebelumnya pun masih tebak-tebak. Puisi yang sedikit kuingat isinya adalah Puisi untuk Guru: ….guru/pahlawan tanpa tanda baca…
Aku bilang, puisi-puisinya bagus. Yang paling bagus adalah Puisi untuk Chaeril Anwar. Puisi itu pendek saja, Cuma dua baris, serupa haiku (atau memang haiku? Ah, tak tahulah aku tentang haiku itu). Intinya puisi itu menyitir perkataan lawas dan terkenal Chaeril Anwar sendiri: aku ingin hidup seribu tahun lagi. Arfa, dalam puisinya, ingin mengatakan, keinginan Chaeril Anwar itu—untuk hidup seribu tahun lagi—benar-benar tercapai. Ia dihidupkan dan diabadikan oleh puisinya.
Setelah artikel-artikel pendek tergunting, kami merapikan Koran-koran itu. Umar kembali berteriak ke arah ruangan masih dengan maksud yang sama: sahabat-sahabat segera bangun untuk mengikuti sekolah menulis. Kali ini benar-benar ada gerakan. Suara-suara yang saling memanggil nama dan menyuruh-nyuruh untuk segera bangun terdengar dari dalam ruangan. Kebasan sarung dan gesekan tikar dan kasur juga terdengar. Artinya, orang-orang yang tertidur telah bangun.
Tak sampai lima belas menit, ruangan telah bersih. Lantai putih mengkilap di beberapa bagian. Tak ada cahaya matahari menembus kisi-kisi di tembok belakang rumah. Cuaca mendung di luar. Tinggal menunggu hujan, gerah di tubuh saya akan lenyap. Saya benar-benar berharap agar segera hujan.
Setelah sekitar 10 orang duduk rapi dengan melingkar seperti biasanya, Umar pun membuka kelas dengan bacaan basmalah: bismillaahirrahmaanirrahiim…
Forum pun diserahkan ke saya untuk difasilitasi. Nah, ini kesulitan saya dalam membawakan materi: selalu gugup dan tak tahu bagaimana membuka kalimat dengan lancar. Saya pun membuka dengan terlebih dahulu berbasa-basi. Mengucapkan salam, berterima-kasih karena masih setia dan konsisten mengikuti kelas menulis, lalu menuliskan tema atau nama kelas/materi yang dibawakan.
Saya pun meraih salah satu spidol ukuran sedang yang telah terkupas label plastiknya. Aku tuliskan dua kata dengan huruf kapital yang tak rapi: SEKOLAH MENULIS. Tak lupa aku menarik satu garis panjang tak terputus dari bagian bawah awal tulisan hingga ke bagian ujung. Garis itu agak melengkung, sehingga menyerupai satu warna pelangi yang memangku huruf-huruf.
Setelah itu, aku menanyakan mereka tentang pengalaman mereka menyelesaikan tugas wawancara. Pengalaman saja: apa kendala yang dihadapi, pelajaran apa yang didapat, serendipity (istilah penelitian: pengalaman atau informasi kebetulan namun berarti yang tak masuk dalam target wawancara) apa yang menarik ketika melakukan wawancara.
Pria di samping kiri saya yang dipanggil Upi mengangkat tangan. Katanya, ia mendapat kendala dalam hal wawancara. Kendala itu berbentuk kesulitan membangun pertanyaan-pertanyaan yang runut dan rapi, tanpa menyusahkan yang diwawancarai. Kemudian ia membacakan hasil wawancaranya yang sebetulnya belum masuk sesi. Tapi aku tak menyelanya. Takut membuat ia kecewa. Jadi kubiarkan saja. Tulisannya tentang seorang laki-laki yang memiliki ‘benda’ kesayangan seorang lelaki juga. Si lelaki itu harus rela menerobos hujan menuju kampus untuk menemui ‘benda’ kesayangannya itu. Kebetulan ia punya janji dengan ‘benda’ itu. Yang lucu adalah bagian akhir tulisannya: laki-laki itu, sesampai di kampus, amat kecewa karena mendapati laki-laki yang ia temani janjian tengah bercengkerama dengan laki-laki lain. Ia menuliskan perasaan laki-laki yang kecewa itu di kata terakhir tulisannya dengan satu kata: tidak, dengan huruf capital, dengan beberapa huruf yang ditambah atau digandakan, sehingga terkesan seolah-olah laki-laki itu berteriak sekeras-kerasnya.
Seusai ia membaca tulisannya, saya pun melanjutkan pertanyaan yang serupa kepada peserta yang lain. Jawaban yang saya dapat nyaris serupa dengan yang disampaikan pengomentar pertama. Saya pun berencana memberikan games atau permainan tentang seni wawancara. Tapi saya menimbang kembali: waktu sekolah menulis hari ini singkat, karena kami baru memulai kelas sekitar jam dua siang. Akhirnya saya urungkan untuk memberi permainan itu.
Saya alihkan kepada analisa hasil tulisan mereka. Sejauh mana mereka menampilkan detail-detail, deskripsi-deskripsi yang melibatkan seluruh indera, eksplorasi konflik, dan lain-lain. Juga, berkaitan dengan fokus tugas wawancara: benda kesayangan, sejauh mana mereka telah menghadirkan secara mendalam makna dan riwayat benda itu kepada si pemilik benda.
Saya berpendapat, ada beberapa yang gagal menghadirkan makna benda itu bagi si pemilik. Saya mengutip beberapa kalimat dari salah-satu karangan peserta: …ia sangat mencintai motor roda dua miliknya. Ini memang sukar dipercaya. Tapi itulah faktanya.
Saya katakan, penulis itu tidak boleh memaksa pembaca untuk percaya. “…Itulah faktanya”, adalah kalimat yang tak cukup untuk membujuk pembaca percaya bahwa seseorang benar-benar menyayangi benda itu. Seorang penulis yang baik harus meyakinkan pembaca dengan eksplorasi mendalam tentang riwayat benda itu. Penulis yang baik harus memberikan alasan kepada pembaca, “begini ceritanya kenapa ia sangat mencintai motor itu”.
Aku pun menceritakan mereka satu bagian cerita dalam Sang Pemimpi, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Salah satu sahabat Ikal bernama Jimbron adalah laki-laki yang sangat berambisi dengan seekor kuda. Ia menghafal hampir segala jenis kuda serta watak di beberapa belahan dunia. Dari kuda biasa sampai kuda jenis Mustang (aku lupa apa istimewanya kuda jenis Mustang itu). Bagaimana risalahnya seorang jimbron bisa berambisi dengan seekor kuda?
Begini ceritanya: suatu hari, si Jimbron menonton televisi. Saat itu film cowboy (cowboy: salah satu kaum penunggang kuda di Amerika untuk mengembala sapi) terputar di layar. Adegan di mana seorang cowboy yang terluka diselamatkan oleh seekor kuda yang mempunyai kecepatan lari yang tinggi telah membuat Jimbron terhenyak lama. Kecepatan lari kuda itu membuat cowboy itu selamat dari kejaran musuh. Jimbron pun teringat dengan almarhum ayahnya. Ayahnya, ketika menderita serangan jantung, meninggal di tengah perjalanan menuju rumah sakit di atas boncengan sepeda (saya lupa siapa yang mengendarai sepedanya). Jimbron pun berpikir, seandai dia memiliki kuda saat itu, dan membawa ayahnya dengan kuda, tentu ayahnya akan selamat dan hidup sampai saat ini. Begitulah Jimbron mulai saat itu terus memburu informasi tentang kuda.
Lihatlah, bagaimana Andrea, si Penulis cerita, tidak memaksa pembaca dengan mengatakan, “Ia sangat mencintai kuda. Ini memang sukar dipercaya. Tapi itulah faktanya.” Alih-alih membuat kalimat seperti itu, Andrea justru menunjukkan kepada kita secara detail bagaimana riwayat seorang Jimbron bisa tergila-gila dengan kuda.
Saya lalu menyarankan kepada peserta secara umum agar memperhatikan fokus. Saya ulang: FOKUS. Fokuskan tema tulisan anda. Biarlah informasi-informasi pendukung menjadi layar dan latar tulisan anda. Perhatikan struktur kalimat anda, apakah telah menerapkan fokus tema tulisan.
Mereka hidmat mendengar penjelasan saya. Ada beberapa tanya jawab kecil perihal yang kurang dipahami mengenai yang telah saya jelaskan. Dan saya rasa mereka puas dengan jawaban-jawaban saya.
Kemudian saya menugaskan mereka untuk menuliskan satu babak penting yang dianggap berarti dan bermakna dalam aktifitas yang diijalani hari kemarin, yaitu hari Sabtu. Jika anda tak bisa menganggap bahwa aktifitas yang dijalani seharian tak punya makna, buat ia menjadi bermakna dengan cara mengaitkan dengan pengalaman anda atau orang lain, atau memanggil masa lalu untuk turut memberi makna pada satu babak aktifitas itu.
Mereka paham dengan kalimat saya, lalu mulailah mereka menulis. Saya memberi mereka waktu kurang lebih lima menit. Dalam menunggu tulisan jadi, saya keluar menuju deker samping pintu dorong tempat beberapa motor terparkir, hendak mencari hembusan angin untuk membuang gerah tubuh. Cuaca mendung, saya masih terus berharap hujan turun.
setelah lima menit berlalu, saya pun meminta mereka berhenti. Lalu satu-satu membacakan hasil tulisan yang dibuat. Yah, cukup bagus. Beberapa telah bisa memberi makna hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap tak bermakna.
Saya katakan, latihan ini juga menjawab orang-orang yang alpa menuliskan aktifitas harian karena dianggap bermakna. Padahal, tugas seorang penulis adalah menemukan arti pada peristiwa paling kecil pun yang bagi orang awam mungkin dianggap biasa-biasa saja. Sederhanya, seorang penulis adalah seorang yang mampu membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Ini adagium lama yang sudah sering kita dengar.
Seusai tanya jawab dan penjelasan sedikit, saya bertanya kepada peserta, apakah kelas harus jeda dulu agar sahabat-sahabat bisa sholat ashar, atau kita lanjut saja? Jawaban yang disepakati adalah: kelas dilanjutkan saja sampai jam lima. Nanti di jam itu baru sahabat-sahabat sholat. Baik, kita lanjut. Biar badan saya gerah, kita tetap lanjutkan kelas.
Tibalah pada permainan membuat karangan, boleh fiksi boleh non-fiksi, dengan memadukan dua artikel yang berbeda. Saya meminta mereka mengambil satu artikel di bagian kiri dan satu lagi di bagian kanan. Setelah mereka paham dengan peraturan permainannya, lamat-lamat kesunyian menggema di ruangan. Saya katakan bahwa permainan kali ini mungkin agak berat dibanding permainan sebelumnya. Sedikit memeras energi imajinasi. Itu harus, agar kualitas menulis bisa tertempa lebih keras.
Saya memberi mereka waktu kurang lebih 10 menit. Lima menit untuk membaca dan mencari inspirasi, dan sisanya menuliskan hasil inspirasi. Suasana kelas agak terkesan berantakan, namun tetap fokus. Karena beberapa peserta mencari tempat-tempat nyaman untuk mencari inspirasi. Ada yang di tempat tidur gantung dekat jendela, di sofa kursi bagian luar, ada juga yang mencari ceruk-ceruk ruangan untuk menyandarkan punggung. Tak apa, pikirku. Selama semuanya tetap dalam keadaan fokus dan serius.
Saya pun beranjak keluar. Ternyata surga itu ada di deker samping pintu besi dorong. Angin kembali menjilati dinding luar baju putihku, dan menembus pori-pori baju kemudian lanjut ke pori-pori dada dan punggungku, menurunkan titik didih keringat di atasnya. Cuaca masih terus mendung. Hujan belum pula turun.
Sepuluh menit menjadi molor beberapa menit. Tak apa. Toh hal itu memberikan aku waktu lebih lama menikmati surga di deker samping pintu besi dorong itu. Ah, cuaca mendung terus. Hujan, turunlah…
Waktu toleransi sepertinya cukup. Saya pun masuk ruangan. Meminta mereka berkumpul kembali ke ruangan. Satu-satu mulai mengambil posisi duduk semula. Dan saya meminta mereka, sebelum membaca hasil tulisan, menjelaskan tentang kendala atau kesulitan yang didapat dalam mengerjakan permainan ini. Jawaban yang muncul nyaris serupa: susah menyambung dua hal atau peristiwa yang sangat berbeda menjadi satu tema tulisan yang padu. Tapi, dari sana mereka betul-betul takjub dengan imajinasi mereka sendiri. Hampir semuanya tak percaya bahwa mereka melakukan permainan yang saya berikan.
Sebelum mereka melanjutkan membaca tulisan masing-masing, saya memberikan sekedar informasi, bahwa permainan ini saya adopsi dari permainan ketika saya mengikuti Pelatihan Penulisan Novel kerja sama kafe baca Biblioholic dengan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) yang berada di bawah manajemen Insistpress, di Puntondo tahun 2004, di awal-awal bulan Ramadhan. Pelatihan itu dipandu oleh dua orang dari AKY: Hasta Indriana, sastrawan yang menulis buku kumpulan sajak Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta; Puthut EA, sastrawan yang sudah menerbitkan beberapa buku cerpen.
Mereka lalu membaca hasil tulisan masing-masing. Derai tawa dari peserta lain kadang menyertai pembacaan hasil tulisan dari salah-satu peserta. Seperti biasa, kali ini permainan masih dianggap hal yang menyenangkan dan menghibur bagi mereka.
Setelah pembacaan tulisan masing-masing, saya meminta pendapat mereka tentang permainan yang telah dijalani. Salah seorang peserta, lelaki berkaca mata, mengacungkan salah satu jempol tangannya, “TOP. SANGAT TOP.”
Saya meminta penjelasan dan eksplorasi lebih jauh. Mereka hanya menjawab dalam bentuk kata sifat: bagus, keren, hebat, top dan lain-lain. Yah, sudahlah. Jika permainan itu membuat kalian mendapat pengetahuan baru, tanpa penjelasan lebih lanjut, aku turut bersyukur.
Sebelum sesi sekolah menulis saya akhiri, saya mengingatkan mereka tentang ide yang saya tawarkan tentang orientasi sekolah menulis yang tengah berlangsung. Tentang bagaimana kalau target sekolah menulis kali ini adalah membuat sebuah proyek penulisan etnografi dengan mengambil TPA (Tempat Pembuangan Air), daerah di mana banyak pemulung di Antang mencari nafkah dengan mengumpulkan sampah-sampah yang bisa dijual, dijadikan objek penelitian. Saya juga meminta mereka segera rapatkan untuk membicarakan sampai kapan sekolah menulis ini berlangsung, berhubung hari itu adalah pertemuan ke empat kami. Artinya sudah satu bulan sekolah menulis berlangsung. Harus segera diberi target dan capaian yang jelas. Dan itu diputuskan oleh mereka. Bukan saya. Saya hanya fasilitator untuk mereka.
Setelah tak ada lagi pertanyaan, saya akhiri sekolah menulis dengan bacaan alhamdalah: alhamdulillaahirabbilalamien…
Duduk sebentar, saya pun kembali ke PKM diantarkan Umar yang kebetulan hendak menuju pondokannya yang tak jauh dari PKM. Aneh, mendung menghilang. Tapi udara yang menerpa adalah udara kering dan panas. Wah, ini tanda-tanda hujan deras akan mengguyur. Tentu saja tidak saat ini. Tidak saat saya menuju PKM.
Matahari sore menerpa. Cukup terang. Seperti ada yang mengganti tiba-tiba warna awan yang semula hitam dengan warna putih-kristal. Mustahil hujan turun dari awan putih mengkristal. Mustahil. Semustahil mengharap surga sore itu…

Jumat, 18 September 2009

Beranda Negeri Insomnia Raya

Spontanitas. Ya, itu dia. Insomnia Raya adalah sebuah spontanitas. Tapi, spontanitas yang kami pahami bukanlah sesuatu yang menimpa kami dan jatuh begitu saja dari langit. Spontanitas adalah sebuah rencana terselubung yang tak terpahami dan terlalu rumit untuk disadari keberadaannya, sehingga saat kita sampai di puncak, kita terkejut, kita berada di beranda sebuah negeri bernama Insomnia Raya. Sebab itulah kesadaran kami ketika berada di beranda ini kami anggap sebagai anugerah, bukan kutukan atau sebuah penyakit yang harus disingkirkan dan dilenyapkan.
Sebuah perayaan diam-diam pun kami lancarkan: media perayaan insomnia…
Di beranda ini kami akan berdansa, bernyanyi, dan bercengkerama dengan para penghuninya. Menautkan sekelumit keluh, merentang segugus gagasan, dengan cara riang, sedikit liar, dan sedih yang tak mau sudah—(de javu dengan kalimat ini). Di tengah lelap para penghuni tetangga negeri kami, ada rencana mimpi yang lebih agung untuk dilepaskan pada istirah esok pagi. Mimpi tentang sebuah dunia di mana kebahagiaan tak hanya ada di halaman khayali dunia tidur, namun juga mengejawantah dalam dunia nyata sehari-hari. Mimpi tentang sebuah pesta di mana semua orang adalah bartender bagi arak yang akan mereka teguk, di mana semua orang adalah pelayan bagi sepiring makanan yang akan mereka santap, di mana semua orang adalah majikan yang akan memurkai diri mereka sendiri ketika menjatuhkan kuah-kuah sayur di baju mereka, di mana orang-orang lemah akan belajar kepada orang-orang kuat, di mana orang-orang kuat tak akan menyingkirkan peran orang lemah.
Dan di beranda inilah segala rencana itu akan dibangun perlahan-lahan…
Negeri insomnia raya mungkin juga adalah wilayah atau komunitas imajiner. Akan tetapi, imajinasi kami adalah imajinasi yang sadar, yang (semoga) akan kami wariskan dan tak akan kami paksakan kepada banyak penghuni lainnya. Kami tak akan menarik pajak, karena semua tanah di wilayah Insomnia Raya adalah tanah perdikan, yang telah dibebaskan dari segala pungutan macam apapun. Kami tak akan memaksa yang lain mendongak dengan tangan kanan melintang miring di kening, menghormati bendera yang meninggi. Kami membebaskan semua penghuni untuk mengekspresikan segala hal dengan cara yang mereka bisa. Tentu dengan cara riang, sedikit liar, namun tetap dalam batas kewajaran, apapun ukuran kewajaran itu.
Kami memang punya lagu kebangsaan, namun lagu itu kami nyanyikan dalam hening. Sebab setiap dada telah memiliki teks-teks ungkapan sendiri. Setiap kepala menyimpan gagasan-gagasan tersendiri. Tapi, ada saat kami bersepakat untuk menyanyikan lagu yang sama, jika lagu itu memang berkenan bagi setiap kami. Dan kami akan terus bernyanyi, meski ada beberapa pita suara yang agak kusut, muram dan serak, sebab bagi kami nyanyian itu bukan melulu perihal nada, tapi rasa…
Dan ketika pagi perlahan bangkit, kami akan beringsut meninggalkan negeri insomnia raya, menuju dunia yang lebih pribadi dan lebih sunyi. Tentu saja kami membawa serta segala ikrar dan sebungkus catatan dari sekian perbincangan dengan yang lain. Rencana itu kami endapkan sejenak untuk kami sebarkan kemudian ketika masing-masing kami berbaur dengan hidup sehari-hari.
Sampai malam menjelang, kami bersiap-siap kembali memasuki beranda negeri Insomnia Raya.

Minggu, 19 April 2009

berita dari tepi jalan

"sudah lama kami bercinta dengan insomnia. membunuh kantuk dan
mimpi yang selalu hadir dalam tivitivi. kami tak lagi bisa tertidur, dan
tak boleh tertidur. sebab tertidur berarti memberi kemenangan
bagi kematian. sementara kami harus tetap hidup. meski marabahaya
seperti dua mata monster atau serupa kamera pengintai di mallmall
yang selalu menaruh curiga pada kami," ucap seorang ibu pada seorang
wartawan di tepi jalan itu.

"kami hanya ingin menyiasati hidup. meski terkadang cara kami sering
dianggap salah. tapi, sekali lagi, semua kami lakukan karena hanya ingin
menyiasati hidup. siasati hidup. itu saja. salah dan benar tak pernah sempat kami
perdebatkan. kami bahkan selalu berteriak di jalanjalan, bahwa kami hanya
ingin makan, ingin minum, ingin menjalani hari dengan sekedar bernyanyi
di tepi jalan beraspal panas," ucapnya lagi penuh hidmat. wartawan itu serius mendengar.

"tolong sampaikan pertanyaan kami pada orangorang di atas sana,
apa benar kami--jika masih dianggap rakyat--akan dimakmurkan
dan disejahterakan seperti dalam undangundangdasar dan pancasila
yang selalu kami pajang dalam bilik gubuk kami. atau undangundangdasar
dan pancasila itu sudah dihapuskan, dan diganti undangundang baru, yang bunyinya
mungkin begini: kemakmuran dan kesejahteraan hanya untuk orangorang berduit?
jika begitu, sampaikan juga permohonan kami, jangan lagi gusur kami. agar kami
leluasa mencari uang hingga cukup untuk membeli kemakmuran dan kesejahteraan
yang dijanjikan," pinta sang ibu dengan wajah memelas. wartawan itu cuma manggutmanggut.

"saya akan menuliskan ini dan menyampaikannya pada orangorang di atas
sana," janji sang wartawan sebelum benarbenar pergi meninggalkan tempat itu.

pun keesokan hari, orangorang membaca itu sembari minum kopi,
atau menikmati matahari pagi yang indah. dan setelah itu,
menjadi pembungkus kacang atau pengalas duduk. juga pemerkaya
pajangan ruang tunggu dan tambahan referensi serta data statistik
kemiskinan bagi para peneliti.

makassar

Perayaan Insomnia

Selasa, 17 Maret 2009
Siklus tidur saya semakin parah saja. Dari hari ke hari makin tak tentu. Pertama-tama tidur jam tujuh pagi, lalu jam delapan, keesokan harinya jam sembilan. Dan tadi pagi saya baru bisa tertidur pada jam sepuluh lewat sekian. Saya tak bisa pahami mengapa bisa demikian.
Ini semakin diperparah oleh aktifitasku dua malam sebelumnya dengan ber-facebook ria di ruang Unit Kegiatan Liga Film, yang memiliki fasilitas hotspot. Pembuatan facebook awalnya hanya iseng belaka. Kemudahan mendaftar membuat saya pelan-pelan mulai masuk lebih jauh, membuka profil-profil orang-orang, membaca hal apa saja yang mereka perbincangkan, dan saya pun me-link mereka menjadi ‘teman’—istilah yang sangat bersahabat namun ilutif. Itu berlanjut malam berikutnya hingga pagi hari. Hingga semakin menambah perubahan yang cepat terhadap diri saya.
Dari perubahan itu, saya mempelajari apa-apa yang berubah pada tubuh dan psikologi saya. Tubuh saya perlahan mulai sedikit mengurus. Rahang di kedua pipi saya mulai nampak. Tak seperti satu bulan lalu, rahang saya masih aman bersembunyi di balik daging pipi yang montok. Selain itu, di sekeliling mata juga mulai terlihat kehitam-hitaman seperti mata pocong. Kepala sedikit berat jika hendak bangun. Dan sepertinya ada meriang abadi yang menempel di punggung saya. Pori-pori punggung saya mulai sensitif dengan hembusan angin, sepelan apapun ia menghampiri.
Saya mulai meminta saran kepada orang-orang di sekeliling saya agar bagaimana siklus tidur saya kembali normal: tidur malam beraktifitas pagi. Tapi, tak ada satu pun solusi cerdas dan memungkinkan yang bisa saya lakukan. Ada memang solusi-solusi yang terpatahkan bagi saya untuk saya lakukan. Di antara solusi itu: cobalah membaca bacaan yang berat yang bisa membuat bosan agar mata memberat, mengantuk dan tertidur. Mana mungkin! Justru bacaanlah yang membuat saya semakin melek. Karena dasarnya saya, jika membaca selalu mencari hal-hal menarik dari bacaan tersebut. Kalau pun bacaan itu tidak menarik, saya selalu mencoba untuk mencari letak ketidak-menarikannya, menguraikan peta-peta kesalahan, lalu mencoba untuk memperbaikinya. Nah, karena solusi itu—membaca bacaan berat itu—tidak akan berhasil bagi saya, saya abaikan saja.
Solusi yang lain adalah: cobalah untuk tidur siang atau sore. Lah, ini omong-kosong apa lagi? Waktu siang memang adalah waktu di mana saya baru beberapa jam tertidur. Sore hari? Itu juga tidak mungkin. Wong jam bangun saya saja menjelang sore. kok. Tak mungkinlah saya harus tidur lagi. Solusi yang paling gila adalah: cobalah menenggak alcohol menjelang tengah malam agar terjatuh di kasur. Tak, tak akan. Aku tak akan melakukan sesuatu yang membuat aku tergantung selanjutnya. Sekali-kali mungkin boleh. Karena memang aku memiliki prinsip: jauhi alkohol. Tapi, jangan jauh-jauh.
Apa saya harus mengonsumsi obat tidur saja, ya? Ah, saya masih terlampau khawatir menenggak obat yang satu ini. takut nantinya tak bangun-bangun. Dan tentu saja aku belum mau membuat orang-orang sedih karena kehilangan aku. Aku kan orangnya…Alah, semakin kacau saja.
Saya sering katakan kepada orang-orang bahwa saya telah merubah siklus tidur saya. Seolah-olah itu adalah ikrar, seolah-olah untuk selanjutnya saya akan mempertahankan gaya hidup seperti ini. Padahal, saya sering khawatir. Jika saya benar-benar merubah siklus tidur saya, maka sedikit hal yang bisa saya kerjakan bersama banyak orang. Orang-orang rata-rata beraktifitas di pagi hari, sementara itu saya sedang tertidur. Orang-orang bercengkerama dan mencari kenalan di pagi hari, sementara itu aku sedang bermain di taman mimpiku yang asing. Untuk mengajak orang-orang begadang itu tak mungkin. Mereka pasti rata-rata telah punya rencana untuk berangkat menunaikan dan menuntaskan kerja bersama teman sejawat. Mereka senang bekerja di bawah matahari, aku suka bermain dalam hitam malam. Mereka seperti penjaga surya, aku seperti mata-mata malam bagi pencuri. Jika sudah berpikiran begitu, kesunyian dan keterasingan semakin melandaku. Aih, diri ini!


****

Senin, dini hari. Motor kopling hitam menyorotkan cahaya silau ke arah kami, membuyarkan perbincangan tentang banci dan kaum waria yang sedang alot-alot berlangsung di antara kami. Saat mendekati undakan menuju lantai atas, kami langsung bisa menerka siapa gerangan: Anto dan Safar. Safar, dengan punggung telanjang, turun dari kemudi belakang motor. Ia terhuyung-huyung diikuti tawanya yang tersendat-sendat, melewati kami menuju ruangan UKPM, dengan menyebarkan aroma alkohol yang kental.
“Mana istriku. We, mana istriku. Ada ko lihat?”
Ia mengulang-ulang kalimat itu tanpa orang yang jelas ia tuju. Kami tertawa-tawa menyaksikan tingkah dan kalimatnya yang tak karuan. Anto, setelah memarkirkan motor langsung mendekati bangku kayu yang menampung setengah pantat orang dewasa, kemudian duduk tenang. Aroma alcohol juga menguar dari mulutnya, meski ia tak juga mengeluarkan ucapan.
“Bagaimana penampilan band-mu. Asyik ji?” tanyaku.
“Juara lima ka’ kakak!”
“Iya, tawwa. Selamat. Ramai pasti orang di Akkarena.”
“Bukan di Akkarena kakak. Tapi, di Ramayana.”
“Oo. Saya kira di Akkarena. Padahal hampir ma kesana. Tapi tak ada teman.”
Ia kemudian berkata bahwa selain Efek Rumah Kaca, Festival Band Indie Makassar yang baru saja ia ikuti juga dimeriahkan oleh band GIGI dan The Brandals. Sehabis itu? Yah, minum-minum bersama enam orang. Saya lupa tanya, siapa mereka. Mungkin teman-teman band-nya Anto.
“Berapa botol?”
“Dua belas botol.”
Artinya, ada dua botol jatah untuk satu orang. Hmmm, lumayan…
Safar keluar dari ruangan mendekat ke arah kami. Lalu duduk di samping Kurni, atas kursi panjang keseluruhan berbahan besi, sehingga selalu berderak jika bersandar di atasnya. Ia memandang Kurni. Tak berapa lama, ia spontan melayangkan telapak tangannya ke jidat Kurni, mendorong kepala bagian belakang Kurni terbentur ke tembok. Teman-teman di Unit Kegiatan Karate Do pasti bertanya suara apa di balik tembok mereka.
Dengan terus tertawa dan bangkit dari kursi, ia mengoceh:
“Ih, adikku. Lompo mi. Dulu masih kecil, masih bisa ditendang-tendang.”
Kami spontan juga ikut tertawa. Kurni hanya mampu tertawa kecil, mungkin menyembunyikan rasa sakit. Kurni adalah sepupu Safar. Dan alkohol itu telah membangkitkan kepekaan Safar dalam melihat perubahan di diri salah satu keluarga terdekatnya, yaitu sepupunya sendiri: Kurnia.
Lalu saling sahut antara Ia dan Kurni berlanjut dalam bahasa Jeneponto. Saya tak paham dengan apa yang mereka perbincangkan. Tapi, karena bahasa tak selalu berbentuk ucapan, saya membaca melalui alotnya mereka saling melempar ucapan dalam tawa, melalui bagaimana Safar berusaha untuk “mengelus” bagian tubuh Kurnia dalam bentuk pukulan, tendangan kecil dan ragu-ragu, saya merasa komunikasi yang romantic dan sedikit kacau tengah terjalin pada sepasang keluarga itu. Sungguh harmonis. Biar pun ia terjalin dalam aroma alcohol yang sedikit amis.
Safar kemudian beralih atas sadel sepeda motor, tempat Tomas duduk. Kemudian ia memijit-mijit pundak Thomas sambil terus tertawa tak karuan. Sambil matanya jatuh ke banyak benda di sekeliling kami, ia berkata kepada Thomas:
“Ini temanku pergi ke Rumbia, kodong. Sama-sama mau rusuh tapi tidak jadi.”
Thomas menyambut kalimat itu dengan sumringah kecil di sudut bibirnya. Rumbia adalah wilayah sedikit menuju pedalaman Jeneponto, tempat kasus penembakan polisi kepada masyarakat yang berkonflik gara-gara perebutan lahan. Dulu kami menjadi tim advokasi sekaligus penyebar propaganda untuk menarik simpati masyarakat Sul-sel melalui usaha kampanye media.
Kami tak bisa berhenti tertawa dan sedikit geleng kepala. Bagaimana tidak? Safar selama ini tak selepas dan sebebas ini. bicaranya tak terkontrol, bebas terkendali, namun tetap santun dalam batas-batas yang tidak melanggar etika pertemanan. Saya sendiri justru lebih nyaman dengan kejujuran yang spontan seperti itu. Sisi kemunafikan yang lahir dengan menekan sedalam-dalamnya kita punya keliaran dengan pura-pura mematuhi seperangkat peraturan dunia nyata kadang membuat kita kehilangan kejujuran sejati. Saya tidak membenci aturan, sebagaimana saya juga tidak menyenangi keliaran tak perlu. Tapi, Safar malam itu lebih banyak menjadi mesin pengingat tentang apa-apa yang pernah dijalani bersama-sama. Ketika ia membuka laci ingatannya membangkitkan kembali segenap peristiwa yang telah lewat, saya tersentak: ada begitu banyak hal yang terlupakan seiring hantaman aktifitas yang membuat memori kami babak belur.
Bagi Safar, meski tak secara harfiah ia sebutkan, kebersamaan itu begitu bermakna. Ia ingin kami melestarikan kebersamaan itu dalam bentuk yang berbeda. Ia ingin ada banyak kerja yang dilakukan bersama-sama tanpa ada keterpaksaan, semua penuh ketulusan. Tapi, apa lacur, kami, di antara mimpi membuat dunia tempat banyak orang saling berbagi tanpa pamrih, terus terancam tergusur oleh banyaknya paksaan untuk kerja secara individu, bekerja untuk menyenangkan segelintir orang, lalu kebersamaan hanya sebatas impian dan aktifitas untuk mengusir kebosanan, mengalienasi diri kemudian ke dalam kerja yang membosankan. saya, di ruangan ini, kembali harus berani menyerukan cita-cita yang mungkin bagi banyak orang hanya eutopia: dunia yang lain itu mungkin.
Tak lama, Safar berangsur menuju ruangan UKPM. Ia hempaskan segera tubuhnya atas karpet merah, yang lekukan-lekukan dan tonjolan-tonjolan kecilnya kadang membuat pola yang sama pada anggota tubuh yang bersentuhan dengannya, khususnya bagian pipi. Dengan tetap tak berbaju, ia pun tertidur, setelah sebentar tatapannya khusyuk menekuni langit-langit ruangan.
Saya bersama Kurni, Himas, Thomas dan Welem kemudian menuju PKM I, lantai 2. Kami meninggalkan sebotol coca-cola terbungkus plastic hitam yang telah tandas. Juga bungkusan roti yang telah habis. Sajian kami malam itu—sebotol coca-cola dan sebungkus roti tawar segi empat itu—sempat menjadi bahan tertawaan Safar. Katanya, menyindir kami:
“Aih, mengaku anti-kapitalis, tapi minum coca-cola.”
Saya tahu itu pemahaman keliru. Dan saya tahu pula, bukan tempatnya dan tidak bijak menanggapinya. Lebih bijak jika mendengar seluruh isi kepalanya yang spontan itu. Terima kasih, alcohol. Terima-kasih…
Kemudian kami yang menuju PKM I berpencar di lantai atas. Saya sendiri menuju ruang Liga Film, melanjutkan menekuni halaman facebook saya. Lama saya mengutak-atik profil banyak orang, kemudian saya pun mengedit dan menambahkan info tentang diri saya sendiri. Dalam poin Tentang Saya yang saat itu masih berbahasa Inggris About Me, saya tuliskan beberapa kalimat yang kurang lebih seperti ini:
Saya sebetulnya adalah pembenci dunia maya. Saya merasa tak nyaman dan teralienasi dengan komunikasi seperti ini. Saya ingin dunia memperlambat kembali akses manusia terhadap banyak hal, agar ruang untuk mengingat semakin jembar dan dalam. Saya senang berjudi dan berada dalam ketidakpastian. Saya senang berada dalam debaran ketika mengunjungi rumah seseorang, menerka-nerka apakah mereka akan ada di rumah atau sedang tidak ada. Jika ada, maka saya beruntung. Saya akan berbincang-bincang tentang banyak hal yang bermanfaat tentang diri saya dan diri mereka. Tapi jika mereka sedang tak ada di rumah, saya tak perlu kecewa dan mengumpat, sebab begitu banyak perjalanan dan tujuan yang harus segera disusun.
Tapi saya juga tahu, teknologi adalah bukti keberadaan akal dan kreasi pada diri manusia. Hanya saja aku tak suka pada teknologi yang membuat dan memaksa orang seragam dan sama…


Tertulis masih dalam rangka merayakan atau mengisi kekalahan saya sendiri terhadap insomnia

Radiohead dan Ingatan-ingatan Kecil

Selasa, 10 Maret 2009
Saya mau menuliskan apa sekarang? Sepertinya tak ada yang berarti untuk ditulis. Seharian ini saya tak ke mana-mana. Ke kampus pun tidak (memang untuk apa ke kampus? Toh, saya bukan mahasiswa lagi). Di PKM saja. Mengulang pembicaraan yang sama dengan teman-teman baru, menertawai cerita humor yang berulang, pokoknya banyak hal yang berulang yang terus terjadi. Dan sialnya hal yang berulang itu terjadi pada saat sang waktu terus berlalu, dan tak akan terulang. Bukankah waktu setiap orang ada ujungnya?
Meski begitu, sesuai perjanjian, saya akan terus menulis. Mencari hal yang berarti dalam hal yang berulang itu. Berusaha untuk mencari makna baru, bukan makna yang juga berulang. Untuk itulah, seberat apapun saya menulis sesuatu yang berulang itu, saya harus terus menulis. Terus menulis…
Pause:
Rabu, 11 Maret 2009. Catatan di atas saya tulis kemaren subuh. Namun tertunda karena Ilda harus memakai computer untuk mengetik tugas mata kuliahnya. Tugas itu pun tak dikerjakannya. Ia tertidur di atas tiga jejer kursi merah di depan dua meja tempat computer dan mixer radio tergeletak. Aku tak enak untuk membangunkannya. Ia sepertinya begitu nyenyak. Sehingga aku habiskan subuh hari dengan mendengar lagu radiohead yang sengaja aku susun untuk diriku sendiri. Jika semua lagu radiohead telah terputar, aku tinggalkan radio polytron yang kuhadapkan ke wajahku di samping kasur dan kususun kembali radiohead, kudengar kembali. Sampai bosan, sampai aku tertidur.
Entah mengapa, sejak malam kemaren—tepatnya subuh kemaren—aku terbius dan kecanduan dengan radiohead. Tak pernah aku kecanduan seperti ini kepada radiohead. Selama ini aku hanya menyukai beberapa lagu, dan itu aku dapatkan dari teman-teman, khususnya Wawan dan Kurnia. Lagu pertama radiohead yang kukenal dan lagsung kusuka adalah No Alarm No Surprises, yang beberapa lirik lagunya pernah dikutip untuk baju sablon hasil buatan teman-teman idefix. Lirik itu berbunyi: …bring down the government/they don’t, they don’t speak for us. Lirik yang sangat anarkis. Lagu lain yang kusuka dari radiohead adalah Creep. Lagu ini penuh tenaga, selain liriknya yang keren. Dua lagu itulah (No Alarm No Surprises dan Creep) yang sangat kusuka.
Mengapa bisa aku kecanduan seperti ini? baik, akan aku coba urai-urai sambil mencoba mencari tahu dari mana rasa suka yang berlebihan ini. Pertama, aku mulai mengenal radiohead dari Wawan dan teman-teman yang lain di idefix. Sebetulnya, bukan hanya radiohead yang mulai aku kenal ketika berteman dengan mereka—di idefix. Banyak band-band dan lagu-lagu aneh yang tidak memenuhi selera pasar(an), aku mulai kenal dari mereka. Khusus radiohead, ia bisa disebut menjadi pintu pertama bagiku yang mengiringi perkenalanku dengan mereka. No Alarm No Surprises adalah lagu yang paling sering kami nyanyikan di tempat-tempat pentas ketika diundang pada acara-acara kecil—seperti bazaar buku, diskusi kecil, dan lain-lain—oleh teman-teman yang mengetahui bahwa kami memiliki kelompok akustik kecil dan bersahaja yang kami beri nama: Dendang Rakyat Semesta. Dendang Rakyat Semesta sebetulnya reinkarnasi atau bentuk baru dari Pijar Imaji, komunitas yang didirikan oleh Ippang, salah satu teman di idefix, dengan teman-temannya. Pijar Imaji ini telah membuat berbagai macam acara, khususnya menyangkut gerakan anti-globalisasi. Lalu dari mana Dendang Rakyat Semesta itu berasal? Setahu saya, Dendang Rakyat Semesta itu cikal bakal nama yang diberikan secara spontan oleh Bobhy, salah satu teman yang pernah menjadi ketua umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), pada saat peluncuran atau peresmian partai Papernas, yang merupakan gabungan kekuatan-kekuatan kiri, khususnya PRD dan underbouwnya. Kalau tidak salah itu masa tahun 2006. Nah, karena kami cukup dekat dengan mereka, kami pun diundang untuk mengisi salah satu babak acara yaitu musikalisasi atau akustik. Kami pun memenuhi undangan mereka, dan berangkatlah kami di gedung Hamrawati, dekat jalan tol Reformasi, Makassar.
Saya tak tahu persis berapa orang dari personel Dendang Rakyat Semesta yang berangkat ke sana. Yang saya ingat: saya sendiri, Nita dan Bobhy (dua orang ini kini menjadi suami istri dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang dipanggil Maha), Achieve (kini menjadi lay-outer di salah satu media local Lombok, NTB), Ladung (kini telah pulang ke Kalimantan), dan beberapa orang lagi yang kulupa siapa.
Setelah disambut oleh salah satu panitia, kami ditawarkan untuk duduk di kursi yang kosong di bagian belakang. Tetapi kami memilih untuk duduk di emperan belakang di bagian luar gedung, di lantai dua. Aula tempat acaranya memang di lantai dua, karena lantai satu adalah gedung administrasi. Kami duduk di emperan maksudnya untuk latihan sekali lagi, mempermatang diri agar tak salah ketika mentas nantinya. Dalam latihan pemantapan itulah Bobhy menyarankan agar tak usah memakai nama Pijar Imaji, melainkan Dendang Rakyat—tanpa kata “Semesta”. Karena Pijar Imaji citranya lebih dekat dengan teman-teman di Unhas dan teman-teman di idefix. Kami, sebetulnya, tak ingin terekspos sebagai orang-orang Unhas atau anggota komunitas idefix. Apalagi untuk acara partai, wah bisa dituduh macam-macam nantinya. Kami hadir ke tempat itu, selain karena kebetulan organ-organ ini memiliki sedikit hubungan emosional dengan kami, juga karena beberapa programnya bagi kami lebih merakyat dari pada program-program partai yang ada. Yang paling saya ingat dari tiga program besar yang mereka kampanyekan adalah nasionalisasi pabrik pertambangan.
Ruangan atau aula tempat peluncuran partai Pelopor ini bising oleh suara-suara perempuan-perempuan yang rata-rata setengah baya, di bagian belakang. Ibu-ibu yang rata-rata memakai baju merah—bertuliskan nama partai—sibuk mengatur masalah konsumsi. Di samping kiri-kanan pintu masuk di dalam ruangan, beberapa kursi berjejer berhadap-hadapan. Di atas kursi-kursi tersebut duduk perempuan-perempuan beragam umur—dari umur belasan hingga dua-puluhan—berdandan minor, dengan baju bodo, baju adat Sulawesi Selatan, membungkus tubuh mereka. Mereka adalah penerima tamu. Bedak dan lipstick mulai terlihat lembab karena cuaca aula yang gerah oleh udara siang, karena ruangan tak ber-AC. Beberapa sibuk mengipas-ngipas wajah dan dada karena kepanasan.
Saya tak lagi ingat siapa dari kalangan pembesar partai atau tamu kehormatan yang memberi pidato atau orasi pada peluncuran partai itu. Yang saya ingat adalah orasi-orasi yang berturut-turut dari kalangan buruh atau rakyat miskin kota yang sungguh jauh dari bahasa ilmiah. Sehingga acara itu terkesan acara kumpul orang-orang kecil yang tak mengerti bahasa politik dan pidato ilmiah. Bahasa mereka adalah bahasa sehari-hari yang belum tercemar oleh polesan-polesan diplomasi palsu. Semua terlihat spontan, semua terkesan jujur.
Seusai semua acara resmi, tibalah pada acara hiburan. Bobhy kembali mengingatkan untuk memberi tahu panitia agar di sesi pementasan kami, kami diperkenalkan dengan nama Dendang Rakyat. Panitia dipanggil dan diberi tahu. Kami pun menunggu nama itu disebut, dan kami akan tampil.
Beberapa persembahan telah ditampilkan. Rata-rata pengisi acara hiburan menyanyikan “lagu-lagu perjuangan”—istilah bagi orang-orang gerakan dalam menyebut lagu-lagu yang bercerita tentang kerakyatan—yang beredar di kalangan tertentu saja. Seperti Darah Juang yng terkenal itu, juga puisi-puisi Wiji Thukul dan semacamnya.
Dan tibalah saatnya: nama Dendang Rakyat pertama kali disebut di sebuah acara peluncuran partai. Meski tetap saja kami sedikit kecewa, karena di belakang nama Dendang Rakyat tersebut kata Unhas. Tapi, tak apa. Tugas kami sekarang adalah tampil yang sebaik-baiknya.
Kami tampil dengan menghadirkan (kalau tidak salah) dua macam persembahan. Satu lagu dan musikalisasi puisi. Seusai persembahan itu, setelah duduk sebentar dengan teman-teman LMND, kami pun pulang. Dan para anggota partai setelah peluncuran itu kemudian longmarch mengendarai truk dan sepeda motor, keliling kota.
Sejak pementasan di acara tersebut, mulailah nama Dendang Rakyat disebut-sebut. Dan kata “Semesta” itu juga kadang bertukar dengan kata “Sejahtera”. Dan sampai sekarang pun seperti itu, meski mayoritas teman-teman mulai nyaman dengan kata “Semesta”. Teman-teman pun mulai senang menyingkatnya dengan DRS (Dendang Rakyat Semesta).
Dan lengkaplah sudah sejarah nama Dendang Rakyat Semesta di bumi Makassar. Anda bisa melihatnya tampil di acara apa saja, terlebih acara ala mahasiswa. Juga aksi jalanan. Jika anda ingin mengundang, carilah beberapa personelnya, lalu bawa mereka ke tempat acara anda itu. Dijamin, dengan senang hati mereka akan tampil meski tanpa persiapan sedikitpun. Karena toh para personelnya tak ada yang jelas. Tapi mereka sungguh penuh semangat. Penuh semangat bernyanyi, penuh semangat memainkan gitar, penuh semangat memukul jimbe, dan yang paling utama adalah penuh semangat mengulur-ulur waktu pementasan mereka. Maka itu, janganlah segan-segan menginterupsi mereka jika ada gelagat menuju arah itu. Jangan takut, mereka tidak akan marah atau kecewa. Karena mereka adalah orang-orang telah putus urat malu, bukan urat kemaluan.
Seringnya saya bersama teman-teman tampil menggunakan DRS, perlahan-lahan membentuk kessenanganku terhadap lagu-lagu yang memiliki dan membawa pesan “dalam” dan tak dangkal. Lamat-lamat saya mulai emoh dan meninggalkan lagu-lagu cinta, meminjam Efek Rumah Kaca dalam Cinta Melulu, yang mengatasnamakan pasar semata. Bersama-sama teman-teman di DRS pula saya mulai memburu lagu-lagu indie, lagu-lagu yang mengeksplorasi banyak hal tentang hidup, dan tidak terjebak pada lagu yang hanya mengumbar cinta dalam makna yang sempit: sebatas hubungan dua individu, perselingkuhan dan sejenisnya. Lagu-lagu apa saja itu? Ada baaanyak sekali! Saya tak bisa menghitung begitu banyak band-band yang ada dalam folder music kami yang mungkin asing bagi telinga awam. Belum lagi kaset-kaset yang band-band dan label perusahaan rekamannya aneh didengar.
Virus-virus terhadap lagu-lagu indie turut pula menyebar ke UKPM. Ini tentu saja dibawa oleh teman-teman yang anggota UKPM juga sebagai pegiat idefix. Hal ini tentu menjadi bargaining point (kedengeran keren, kan?) bagi kami. Sebab, di setiap pementasan, kami bisa menyaksikan mulut penonton yang melongo sambil menyembunyikan kekaguman mereka terhadap DRS (ini salah satu sikap sok orang-orang DRS, hehehe..), karena nyanyian kami yang mungkin menurut mereka baru dan menggairahkan (ini juga salah satu sikap over-pede orang-orang DRS).
Nah, sejak saya kemudian tak lagi terlalu aktif dengan teman-teman idefix, karena persoalan akademik yang menuntut untuk dientaskan, saya juga sedikit menjauh dengan hingar-bingar lagu-lagu keren dan “dalam” tadi. Saya mulai mencari satu pengalaman di mana saya bisa belajar untuk mempraktekkan ilmu mengedit saya yang saya pelajari secara otodidak. Saya pun diminta untuk mengedit (redaksional) beberapa naskah yang akan diterbitkan oleh penerbit Ininnawa. Dan gaji-gaji dari pekerjaan itu kemudian menjelma buku-buku.
Di kantor ininnawa, saya bertemu kembali dengan Tom Yorke, vokalis radiohead. Kak Jimpe, direktur penerbitan, adalah orang yang “keranjingan” dengan suara-suara Yorke yang sekali-kali melengking, sekali-kali menggumam syahdu. Dari kak Jimpe pula saya mendapatkan terjemahan lagu-lagu radiohead dalam bahasa Indonesia dengan gaya yang puitis. Kebetulan kak Jimpe juga adalah penyair yang karya-karyanya pernah dimuat di Koran tempo dan media-media sastra lainnya. Ini tak banyak yang tahu. Aktifitas kepenyairannya mutlak tersita oleh pekerjaan memeriksa naskah karya yang masuk ke meja redaksi penerbitan.
Awalnya saya suka dengan beberapa lagunya radiohead, kemudian kagum dengan karisma serta hal-hal politis mereka dalam bermusik. Ini saya ketahui dengan bincang-bincang dengan beberapa orang yang mengetahui tentang band ini, juga majalah music Rolling Stones, dan juga browsing di dunia maya.
Kemudian pintu selanjutnya yang perlahan mulai membuat aku lebih dekat kepada radiohead adalah Efek Rumah Kaca. Band asal Jakarta ini digawangi tiga orang laki-laki. Album pertama mereka yang memakai nama sendiri sebagai nama album—atau selftittle—adalah album dengan eksplorasi-eksplorasi hal baru dalam lirik. Simak saja bagaimana lagu tentang Hujan Desember, Jatuh Cinta itu Biasa Saja, dan lain-lain. Bukan Cuma itu, kritik terhadap persoalan sehari-hari juga muncul dalam beberapa judul lagu. Dari prilaku konsumtivisme (istilah yang paling benar dari pemakaian kata konsumerisme) masyarakat kita (dengar saja lagu Belanja Terus Sampai Mati), hingga kecenderungan para pemusik yang latah, yang mencari keuntungan lewat music dengan mengabdi pada pasar (dengar saja Lagu Cinta Melulu).
Kesempatan besar saya untuk menyaksikan langsung band ini manggung hadir pada saat peluncuran atau peresmian sebuah distro yang menjual baju sederhana dengan harga hingga ratusan ribu rupiah, voolhouse (awalnya aku piker Fullhouse, yang juga merupakan band mellow yang pernah menjadi hit di kalangan anak-anak idefix dengan tembangnya: Breathing).
Kesempatan itu bertepatan dengan satu acara yang tak kalah penting: Pengukuhan Anggota Baru UKPM di Tanjung Bayam, yang telah lulus IHT (In House Training), sebuah prosesi sekitar satu bulan sebagai syarat menjadi anggota. Nah, awalnya aku sudah berniat “durhaka” terhadap UKPM: aku tak akan hadir hanya untuk menyaksikan band ini tampil. Alangkah sayangnya, Alan, salah satu anggota dewan pers kala itu yang kini menjadi kordinator dewan pers, dawtang menjemput. Gugur sudah harapan menonton Efek Rumah Kaca.
Akan tetapi, keinginan itu muncul kembali ketika Ahmad, salah satu anggota baru yang akan dikukuhkan, berniat pula untuk menonton. Tanpa berkomentar panjang tentang statusnya sebagai orang yang akan dikukuhkan, saya pun dengan sumringah yang paling lebar di kedua sudut bibir mengajaknya untuk menonton. Awalnya ia ragu dengan ajakan saya. Tapi ketika saya meyakinkan bahwa tak akan terjadi apa-apa terhadap status keanggotaanmu, ia pun mengangguk setuju.
Sekitar usai maghrib, kami berangkat. Hanya satu-dua orang yang tahu bahwa kami keluar untuk menonton Efek Rumah Kaca. Itu pun mungkin mereka masih sangsi.
Kami pun berangkat dengan mengendarai motor miliknya. Di tengah perjalanan, serbuan SMS terus mengguyur handphonenya. Ada yang berkata agar jangan keluar jauh-jauh dan jangan lama-lama. Ada pula yng memesan sesuatu. Panji, sang ketua UKPM waktu itu, meminta untuk membelikan beberapa tali gitar. Kami berhenti, lalu membelikan tali gitar.
Sesampai di tempat acara peluncuran di jalan pengayoman, dekat Mall Panakukang, kami segera memarikir motor, dan perlahan mendekat ke arah panggung yang menutupi satu jalur jalan raya, yang berseberangan dengan kios distro Voolhouse berdiri. Saat itu hingar-bising dengan lagu-lagu yang dilantunkan oleh band-band indie local yang mengisi acara sebelum aksi panggung dari Efek Rumah Kaca.
SMS kembali menyerbu Ahmad dengan pertanyaan tentang kejelasan keberadaannya. Ahmad dengan wajah panik meminta tanggapanku. Aku memandang matanya dan berkata,”ah, biar saya yang tanggung-jawab.” Nah, ini jawaban yang sangat feodal. Bagaimana mungkin jawaban yang sangat arogan ini bisa keluar dari anak UKPM? Tapi, sungguh, ini bukan niat. Ini hanya reaksi spontan karena dituntut oleh hal yang susah dijelaskan. Ini tentang pilihan. Ini tentang rekreasi. Ini tentang memilih hiburan.
Tapi aku bisa membela diri: alasan kami lebih keren dari alasan Wawan ketika ia tak mengikuti acara pengukuhan saat ia seharusnya dikukuhkan. Ia beralasan mengikuti sebuah acara lembaga. Namun, sungguh memalukan dan memilukan, seseorang mendapatinya tengah berada di kerumunan orang-orang yang asyik menonton konser music Sheila on Seven. Mana yang lebih keren alasannya? Dan…mana yang lebih asyik bandnya? Ya, alasan kami dan band yang kami tonton dong yang lebih keren.
Setelah semua band pembuka tampil, Cholil, sang vokalis sekaligus gitaris yang juga kakak kandungnya presenter Indra Bekti, memakai baju kaos belang vertical lengan panjang berleher hingga menutupi jakun leher, naik ke atas panggung bersama dua personel lainnya: basist dan drummer. Petikan gitar pada lagu pertama seperti sebuah magnet yang menarik banyak orang mendekati bibir panggung setinggi sedikit ke bawah dada orang dewasa. Tapi sayangnya, mik yang dipakai Cholil ngadat alias tak berfungsi. Untuk mengusir kekecewaan, bebrapa penonton seperti sepakat koor bersama-sama mengganti suara Cholil: demi masa/ sungguh kita tersesat/membiaskan yang ada/karena kita manusia…
Cholil terus bernyanyi, meski mik di hadapannya belum pula berfungsi. Seseorang yang mungkin penanggung-jawab teknis sibuk memeriksa dengan menggoyangkan kabel mik, berharap segera menemukan kerusakan di sana. Mik berfungsi menjelang akhir lagu. Setelah lagu usai, Cholil meminta maaf—seharusnya panitia yang meminta maaf—atas kesalahan teknis tadi.
Saat lagu pertama itu, saya tak mendekat ke arah panggung. Saya masih sekitar sepuluh meter dari arah depan panggung. Cholil kemudian menyapa penonton sekaligus mengumumkan bahwa penampilan mereka malam itu sekaligus launching album kedua mereka: Kamar Gelap. Kamar Gelap bersampul sebuah gambar latar hitam dengan foto samping seekor kambing berjenggot sedang—tak terlalu lebat—yang dijepit mulutnya dengan sebuah jepitan yang sering dipakai untuk menjepit jemuran pakaian.
Di lagu kedua, saya mulai benar-benar mendekat ke bibir panggung (dalam artian harfiah, sampai menyentuh papan panggung hingga bisa membaca sehelai kertas A3 yang menyenarai lagu-lagu yang akan dibawakan malam itu). Dari catatan di kertas itu, saya jadi tahu ada 14 lagu yang akan mereka bawakan, serta lagu yang apa saja yang saya hafal lirik dan tekanan nadanya. Sehingga saya bisa berencana di lagu mana saja saya akan melompat-lompat. Ada tiga lagu yang membuat saya, juga orang-orang di sekitar saya, lompat-lompat mengikuti ritme lagu: Di Udara, Lagu Cinta Melulu, dan satu lagu dari Album baru. Di dua lagu pertama saya bisa melompat sambil bernyanyi, tapi, di lagu ketiga, saya hanya melompat tanpa bernyanyi. Karena terus terang saya belum mendengar lagu-lagunya, kecuali Kenakalan Remaja di Era Informatika, yang bercerita tentang kegemaran anak-anak remaja Indonesia memamerkan tubuh hingga mengabadikan perzinahan mereka lewat video dan tersebar di dunia maya. Padahal, saya berharap salah satu lagu andalan saya yaitu Belanja Terus Sampai Mati dinyanyikan. Namun tidak dinyayikan. Tapi, Cholil sempat mengucapkan kata itu ketika ia mengumumkan orang-orang di tempat itu, yang rata-rata anak-anak muda dengan dandanan ala distro (yang seperti apa itu?), untuk membeli album mereka dengan hasrat memiliki satu saja. Jangan beli banyak-banyak. “Jangan Belanja Terus Sampai Mati,” kata Cholil.
Kalimat ini mungkin juga untuk menyindir salah satu band pembuka, ketika tampil menyerukan kepada orang-orang, setelah sebelumnya mengucapkan selamat Voolhouse atas launchingnya, untuk membeli barang-barangnya Voolhouse dengan berlipat-ganda. “Ayo, belanja terus sampai mati,” seru sang vokalis band itu.
Setelah lagu pamungkas usai, kami kembali ke Tanjung Bayam. Sesampai di sana, pengukuhan belum dilaksanakan. Seperti perkiraanku. Hanya presentasi media kelompok tengah berlangsung. Awhmad pun disuruh panitia untuk bergabung dengan kelompoknya, namun melalui pintu belakang, dekat kamar mandi dan dapur—dua benda yang serasi, seperti serasinya antara aktifitas makan dan berak, masuk ke perut keluar lewat ******.
Sejak sat itu, saya mulai memutar lagu Efek Rumah Kaca di setiap ada kesempatan bercengkerama dengan monitor computer. Beberapa lagu mulai terdengar seperti candu, mengusap lembut telinga saya. Saya kemudian merasa de ja vu dengan nada-nada gitar dan vocal si Cholil. Tak salah lagi, music Efek Rumah Kaca memang terinspirasi dari music Radiohead.
Dan subuh kemaren hingga saat ini, saya selalu seperti tak bosan-bosan mendengar Radiohead. Awalnya memang terdengar rumit, perlahan-perlahan seperti mantra, ia terus memaksa telinga kita untuk terus mendengarnya. Sialnya, saya mendengar Radiohead ketika beberapa teman angkatan saya mulai melirik dunia kerja industri untuk menghidupi diri. Sementara Radiohead terus-terusan memborbardir kepala saya dengan propaganda dalam lagunya No Alarm No Surprises.....a job that slowly kills you/bruises that won’t heal…

Numpang Makan Siang di Warung Makan Padang

Kamis, 5 Maret 2009
Pukul 11.30 pagi ini saya bersama seorang teman berangkat menuju warung makan Padang, dalam rangka menghadiri undangan peresmian warung makan “Putri Minang”. Aih, saya berbohong: tujuan saya dan teman ke sana semata untuk numpang makan siang gratis. Kami hanya memanfaatkan undangan hijau mengkilap itu sebagai tiket, yang hanya berlaku untuk dua orang.
Letak warung makan itu rupanya satu tembok pembatas dengan warung kopi al-Dina, tempat beberapa minggu yang lalu panitia Mubes UKPM XIV mengadakan bazaar. Beberapa baris ke samping kanan berjejer rumah-rumah makan, bengkel dan kios. Di seberang jalan dari jejeran rumah makan Padang itu, Universitas Islam Makassar—sering ditulis UI Makassar—berdiri bersahaja.
Sesampai di tempat acara, orang-orang ramai menyesaki wilayah bawah kanopi beratap terpal biru yang berada tak lebih empat meter dari pintu warung makan. Terlihat pita merah terikat di pintu masuk warung makan berkaca tebal dengan buhulan berbentuk hati di tengahnya, menunggu sebuah gunting yang akan memotong bagian tengahnya sebagai simbol peresmian. Mobil-mobil terparkir rapi di pinggir trotoar.
Seorang dengan rambut gondrong berbaju hitam dengan tulisan kuning keemasan di salah satu kantong baju: Makassar TV, menyoroti suasana warung makan dengan kamera yang membebani pundaknya. Macam-macam baju safari dan kantor lalu-lalang: pegawai foto kopi bercengkerama dengan pegawai kantor swasta, prajurit Angkatan Darat berbincang ringan dengan Polisi Wanita, anak-anak kecil bermain-main di balik kursi, ibu-ibu gempal berkerudung dengan pinggang bergelombang karenan selulit duduk rapi serupa patung, pelayan-pelayan ada beberapa yang berdiri rapi di samping pintu masuk yang bertuliskan SELAMAT DATANG, wartawan-wartawan yang mengerubungi seorang laki-laki berdasi dengan kamera dan alat perekam di tangan mereka.
Kami masih berdiri di pagar kain putih sepinggang, sambil mata terus menyatroni kursi-kursi kosong, namun semuanya terisi. Teman saya lalu menghubungi seorang teman yang berencana juga datang, dan jawaban yang tiba adalah: ia masih di danau Unhas. Entah sedang apa ia di sana. Kami juga mencari dua orang yang sama-sama berjanji untuk datang ke tempat itu. Mereka tak datang. Mata saya sibuk melanglang ke setiap wajah orang-orang, mungkin akan ada wajah yang saya kenali, namun tak satu pun yang saya kenali.
Tak berapa lama, para undangan dipersilakan untuk mencicipi makanan yang tersedia dalam wadah-wadah besi atas meja prasmanan, yang tersebar di beberapa tempat. Satu meja prasmanan di luar, dua di bagian dalam. Saya dan teman saya menunggu sebentar sampai kerumunan yang menuju ke meja prasmanan berkurang. Kami mencari tempat duduk, lalu duduk berdampingan. Beberapa menit kemudian kami beranjak menuju meja prasmanan, setelah melihat kerumunan yang tak terlalu berkurang namun makanan terancam habis.
Kami memilih untuk mengambil makanan di dalam saja. Kami masuk. Baru sampai di pintu, saya ditawarkan piring untuk makanan. Saya menyambutnya dengan tangan kanan. Saya melihat titik-titik yang saya kira manik-manik piring. Saat saya menyentuhnya, titik-titik noda itu melengket di ujung-ujung jari saya. Setelah noda-noda debu itu tersingkir dari piring, saya menyendok dua sendok nasi. Kemudian menuju wadah-wadah lauk: tak ada lauk, hanya sisa kari berlemak menempel di dinding-dinding wadah. Saya dan beberapa orang di tempat itu menunggu lauk yang datang. Tak berapa lama ayam tumis datang. Saya beruntung dapat dua bongkah ayam yang tak saya pikirkan lagi itu bagian apa dari ayam. Kemudian saya mengambil sambal. Sayur nangka saya dapatkan di sebuah meja makan yang dikelilingi beberapa orang yang sedang makan. Wah, curang. Di bagian lain kekurangan, tapi beberapa orang malah tak tahu malu menyimpan wadah-wadah lauk itu untuk diri mereka sendiri.
Sembari makan, mata saya berkeliling ke segenap penjuru. Dalam ruangan di dua sisi tembok yang berhadap-hadapan di warung makan Padang itu, beberapa lukisan terpajang. Yang paling khas adalah satu lukisan yang menggambarkan beberapa rumah gadang Padang: dinding-dinding dari bambu dengan atap melancip seperti rumah adat Toraja, Sulawesi Selatan. Ada juga dalam lukisan itu Jam Gadang Padang yang terkenal itu. Lampu-lampu Phillips yang ditudungi besi bundar yang melesak masuk ke langit-ke langit ruangan, nyaris semuanya menyala.
Saya bukanlah ahli perasa makanan. Saya hanya tahu makanan Padang terkenal dengan kari-kari berlemaknya. Hal itu saya dapatkan: ada terasa di lidah saya rasa-rasa kari yang berlebih namun cukup khas dari makanan yang pernah saya makan. Akan tetapi, menu-menunya tak saya temukan yang ‘berbau’ khas Padang. Menu-menu yang yang terpampang pada papan plastik di sisi kanan tembok dari arah pintu menyebutkan menu-menu yang sering kita temukan di warung-warung makan, bahkan di warung-warung kecil dan murah ala mahasiswa. Beberapa variasi nasi ayam, dari ayam goreng sampai ayam bakar. Begitu juga dengan nasi ikan, minuman dan lain-lain. Saya tak menemukan sebuah menu spesialis bergaya atau ber-istilah Padang.
Di samping menu-menu yang biasa itu, satu hal yang terpikirkan olehku: bisnisisasi makanan. Terlampau jauh saya punya pikiran, memang. Bayangkan, apa yang dilakukan warung makan itu bukanlah sebuah amal, itu hanya strategi pasar menggaet pelanggan untuk makan di tempat itu. Apa yang dilakukan warung makan Padang itu adalah berjudi. Memberi makanan ratusan orang dalam satu hari itu tentu memiliki pamrih, suatu saat akan kembali modal. Siapa-siapa saja yang datang? Orang-orang kantoran dan kalangan kelas menengah yang cukup makan. Berapa saja harga yang diterakan pada setiap makanan? Lihatlah ke arah papan menu itu: dari yang termurah Rp. 9000 sampai 15.000. Itu harga yang sangat tidak masuk akal bagi yang berakal, tapi mungkin masuk akal bagi yang bergengsi.
Dari itulah saya katakan semula, saya tidak menghadiri acara peluncuran warung makan, tapi numpang makan siang. Setidaknya menurut saya pribadi, menjamurnya bisnis warung makan adalah bentuk nyata hegemoni di mana kita disuruh seragam dalam berpenghasilan, dalam bersikap, dalam bekerja, dan menyempitkan gerak kemanusiaan kita untuk saling berbagi. Karena terlanjur semuanya dibentuk menjadi komoditas. Maka tak heran aktifitas Food Not Bombs, acara bagi-bagi makanan gratis yang dikelola secara swakelola, tanpa pamrih, tanpa kepentingan politis praktis, menjadi ancaman serius bagi warung-warung makanan seperti warung makan Padang itu.
Saat nasi saya akan segera habis, Amin, teman di UKPM bersama temannya datang. Alfa, teman yang ketika dihubungi katanya berada di danau Unhas, juga datang dengan temannya. Semuanya berpasang-pasangan. Seperti hitam dan putih, anjing dan kucing, kuda dan kerbau, CPU dan monitor…
Setelah makanan di atas piringku tinggal menyisakan kari-kari merah, saya dan teman saya beranjak keluar. Cuaca di luar sedikit mendung. Kami tak menunggu lama, akhirnya memutuskan untuk pulang ke PKM.
Menuju PKM, kami harus memutar jalur dan terpaksa harus menempuh perjalanan sedikit jauh sampai belokan di samping Makassar Town Square (Matos).
Di sepanjang perjalanan saya terheran-heran, begitu banyak warung-warung makan, tetapi kenapa kelaparan di sekitar kita masih saja memprihatinkan? Pasti ada yang salah dengan sistem. Pasti ada yang salah…